Menutup bulan dengan tulisan… Jakarta, 31 Mei 2012…
Kali ini saya mau berbagi cerita soal teman baik atau best friend. Teman bisa jadi banyak, bahkan tak terhitung, tapi yang benar-benar teman dan dapat diandalkan khususnya di masa sulit itu bisa dihitung.
Saya mempunyai teman baik sebut saja Frans…hahaha, memang itu namanya
) Kami berteman mulai awal kuliah sekitar tahun 1994 lalu. Awalnya saya mengenal Frans karena kami sekelas di Jurusan Arsitektur sebuah universitas yang konon terbaik se Asia Tenggara hihihi. Bahkan tempat duduk kami dekat, ps : di kelas studio kami duduk berdasarkan nrp lhoo. Nah, mungkin sudah diatur dari sananya maka kami pun berteman. Frans yang saya kenal saat pertemuan pertama adalah orang yang mungkin saya pikir ‘nerd’ (sori pisan Fraaaannns) tapi ternyata dia adalah pendengar yang baik, pemberi nasihat yang baik dan pembela yang baik.
Penggemar Tintin ini memang jarang jalan sama saya. Tapi di saat-saat saya membutuhkannya, dia selalu ada… Jatuh bangun saya (khususnya masalah cinta..heran cinta itu benar-benar complicated deh) Frans selalu ada di sisi saya, menenangkan saya, membuat saya tertawa dengan caranya yang ajaib tapi membuat saya tenang. Bahkan selalu menyediakan tisu bagi saya kalau saya menangis…tengkyuu so much.
Dalam kondisi apapun, dia mendukung saya, bahkan sampai sekarang. Frans tidak pernah sekalipun menjudge saya, meski saya salah sekalipun. Dia selalu memandang segala permasalahan dari sudut yang berbeda, sudut dimana dia bisa membuat saya merasa tenang. Kami juga sering kok berantem, tapi pada akhirnya ‘keributan’ kami ini akan selalu diakhiri dengan tawa…
Persahabatan kami terus berlanjut bahkan saat saya mulai kerja di stasiun tv ini, Frans pun ikutan gabung bersama teman-teman saya, baik yang sekantor maupun di luar kantor. Saat saya jomblo dulu, masih inget tuh bersama-sama teman-teman dari stasiun tv lain, kami jalan, makan, main bilyar, nongkrong, seru deh, dan Frans lah yang mengantar saya sampai rumah dengan selamat meski capek banget tuh keliatan dari mukanya, tapi dia tetap tersenyum dan membuat saya ngelunjak hahaha…maaf yaaa.
Alm Ibu saya, bahkan teman-teman saya bilang kenapa saya dan Frans tidak pernah jadian. Saya hanya tersenyum, karena saya tau persahabatan kami tulus, dilandasi rasa sayang, tapi bukan cinta. Dan mungkin sedikit lho yang bisa seperti kami (sotoy
) Jujur saya sangat menyayangi sahabat saya itu, tapi ya sebatas sahabat…kami memang bff
)
Oh iya dulu pertama kali saya wawancara kerja di dot com, Frans lhooo yang nganterin wawancara bahkan menunggu sampai saya kelar. Ya Tuhan you’re so kind Frans wkwkwkwk.
Naaah, ada juga nih…berhubung dulu pacar-pacar saya gak ada yang romantis, Frans deh tuh yang memberi saya bunga mawar holland yang wangi dan indah, merah pula supaya saya gak sedih…waaaah memang luar biasa sahabat saya ini.
Frans, sahabat yang memberi tanpa pamrih, tak hanya di saat senang, tapi kerap datang di saat duka, dan selalu memberi dukungan no matter what. Bahkan sampai sekarang… What can I do without you Frans…. Kamu tau? Saya gak bisa membalas semua kebaikanmu, yang bisa saya lakukan hanya mendoakanmu supaya selalu bahagia dalam limpahan rahmat Tuhan. Makasih banyak ya Frans….
Ps : jangan lupa nanti jadi bapak baptisnya Bee lhooo hahaha….
Saat ini pun saya juga mempunyai beberapa teman baik, yang saya tau mereka tidak menjudge saya, yang selalu mendengarkan saya, membantu saya bahkan mendukung saya di masa sulit saya… Teman-teman yang hadir membawa keceriaan dalam hidup saya, dan bahkan memberi warna indah dalam perjalanan saya….
Makasih teman-temanku….like i’ve said, what can i do without you all… God bless you my dearest friends….xoxo always be happy…..
Tulisan ini saya persembahkan untuk teman-teman baik saya yang setiap saat selalu ada di saat saya membutuhkan… You’re all the best!
Beberapa waktu lalu saya (akhirnya) bisa nonton film yang dihebohkan saat ini : The Raid. Rasa penasaran saya terjawab, meski (maaf saya bukan kritikus film,tapi boleh dong berpendapat) bagi saya film itu sendiri terlalu mengumbar kekerasan dan darah. Sedikit mengulas film ini (pendapat pribadi iniiih
) angle-angle nya keren..gak nyangka deh kalau film Indonesia meski ada campur tangan bulenya, tapi bisa menghasilkan gambar dan angle yang bagi saya indah, tak biasa dan bisa lah disejajarkan dengan film-film box office hahaha…
Sayangnya para pemainnya masih terkesan kaku dalam berdialog dan berakting… Beruntung film ini tak terlalu mengandalkan dialog, jadi yaah mereka ‘selamat’. Contohnya saja pemeran utama, Iko Uwais sebagai Rama, beberapa dialognya terkesan kaku, dan malah kadang belibet ngomongnya
tapi yaaah terselamatkan deh, karena dia ganteng, ‘cool’ dan kereeeen hahaha, kalau pendapat ini sangat subyektif hihihi. Malah kakaknya Rama, Andi yang diperankan Donny Alamsyah lebih luwes dalam dialognya. Kalau Rae Sahetapy mah jangan ditanya..dah kawakan.
Berbicara soal Rae Sahetapy dalam perannya disini justru dia paling berkarakter…dan justru paling menonjol karakternya…Padahal dia jadi orang jahat lho disini hahaha… Weiiits saya jadi ngelantur nih, mau bahas soal belajar dari musuh kita malah ngebahas film The Raid
tapiii jangan salah, justru dari film ini saya mendapatkan pelajaran.
Mau tau siapa ‘musuh’ yang menginspirasi saya? Dialah si ‘mad dog’ alias tangan kanan Rae Sahetapy yang brutal dengan kemampuan berkelahi yang tinggi. Soal jahatnya sih tolong jangan ditiru. Tapi yang saya maksud disini adalah apa ya, saya gak menemukan kata yang tepat. Begini, si mad dog ini dalam sebuah adegan sudah siap menembak salah satu polisi, tapi yang dia lakukan adalah, menaruh pistolnya dan menantang duel. Bagi saya, ini sangat beresiko.. Ya kalau ternyata mad dog menang? Lha, kalau kalah? Kan mati konyol.
Menurut saya sikap mad dog ini ibaratnya bukan berani keroyokan, tapi satu lawan satu. Nah, saya mendapat hikmah dari sikap ini, salah satunya kalau kita bermasalah dengan orang, ya gak usah ngajak-ngajak yang lain untuk ikut-ikutan, kan masalahnya personal, hadapi saja satu lawan satu, jangan cari pengikut, pendukung alias back up atau apapun lah istilahnya. Wong si mad dog ini bahkan ngusir temen2 nya supaya gak ikutan. Istilahnya gentle, gitu kan ya? Maaf kalau salah hehehe.
Adalagi nih sikap mad dog yang patut dicontoh. Dia nekat nantang duel satu lawan satu dengan segala resikonya. Tapi dia juga tau kalau dia punya kemampuan dan akan mencari jalan untuk menang. So, kenapa kita tidak? Kalau kita punya kemampuan, sudah mempersiapkan diri, kenapa takut menghadapi tantangan? Kita pun harus mencari jalan untuk mengalahkan tantangan itu, ya kan? Jangan lupa berdoa pastinya, karena dengan restu Nya semua akan bisa kita lalui. Keep the faith!
Jadi, ini semua bagaimana perspektif kita memandang sebuah film, cerita, atau apapun yang ada di kehidupan ini. Meski seburuk apapun, kalau kita balik cara pandang kita, mungkin banyak sekali pelajaran yang kita dapat tanpa kita sadari. Jadi…mari kita berpikir positif dan maju ke depan mengalahkan tantangan yang membentang luas menunggu untuk dikalahkan. Semangaaaat!!!
Dini hari tadi sekitar pukul 01.00 saat saya masih terjaga membuat tulisan untuk blog ini terdengar keramaian di luar sana, ternyata banjir kiriman datang dan membuat kali pesanggrahan yang tak jauh dari rumah saya meluap. Tak ayal, keluarga saya pun segera mengeluarkan kendaraan bermotor dan menempatkannya di luar sana tempat yang lebih tinggi, untuk mengantisipasi naiknya air.
Benar juga, air pun datang tanpa bisa dikontrol. Anak-anak yang tengah terlelap pun terpaksa kami bangunkan, dan mulailah kami membawa kasur, barang-barang lainnya ke lantai atas, tempat yang aman dari terjangan banjir ini. Gotong royong, bahu membahu menyelamatkan barang pun terjadi di tengah kesunyian dini hari tadi. Kepala rasanya mau pecah, semua berkecamuk. Kesal, sedih, marah dan pusing ada di kepala saya ini.
Bagi yang tidak pernah merasakan terkena musibah banjir mungkin tidak akan pernah mengerti rasa capek yang dirasakan saat banjir datang dan setelah banjir usai. Bagaimana tidak? Sesudah banjir akan menyisakan lumpur-lumpur tebal dan kotoran-kotoran lainnya, sehingga usai banjir surut nantinya, kami akan lebih capek luar biasa untuk membersihkan rumah, menata kembali barang. Jadi jangan pernah berpikir bahwa setelah surut kami bisa kembali melakukan aktivitas kami. Karena masih banyak yang harus kami lakukan.
Padahal saya sudah senang melewati bulan Februari dan Maret yang diprediksi akan terjadi banjir 5 tahunan di Jakarta. Eeeh lha kok malah di bulan yang tak terduga, April ini malah mengalaminya. Meski tidak separah 5 tahun lalu yang sampai ketinggian 2 meter. Bayangkan, 2 meter! Lantai bawah rumah kami terendam habis kala itu. Saat ini (semoga) tidak terjadi banjir mengerikan itu. Kedalaman air dalam rumah setinggi lutut orang dewasa, di halaman sepaha orang dewasa dan di jalanan sepinggang orang dewasa, karena rumah kami lebih tinggi dari jalanan depan.
Kesal, sedih, marah saya rasakan. Saya gak mau capek, bahkan hari ini saya ada janji yang musti ditepati, tapi apa daya, saya harus berdamai dengan keadaan ini. Marah, kesal, sedih pun tak akan merubah keadaan. Meratapi terus-terusan juga tak akan seketika menghilangkan banjir yang masuk ke dalam rumah.
Karena itu saya memutuskan untuk mencoba..dan harus berdamai dengan keadaan ini. Menerima kenyataan dengan hati tenang, meski sulit. Tapi toh, saya tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Berdoa supaya musibah ini segera terlewati akan lebih baik dibanding dengan menyesalinya.
“You’re the best thing that ever happened to me.” Judul lagu Tommy Page ini kereeen banget, apalagi liriknya :
“I never thought I’d ever need someone,
As much as I need you.
You brighten my day, in every way
You make my life feel so brand new…”
Banyak hal-hal indah terjadi dalam hidup saya… Saking banyaknya, kayaknya gak cukup untuk dituliskan, butuh waktu berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Lebay yak hahaha, tapi itu kenyataan lho.
Hal-hal indah ini kerap datang tanpa diundang, tanpa disadari…tiba-tiba ada di depan mata. Tak bisa ditolak, tak bisa dipungkiri apalagi dilewatkan, karena ya itu tadi mana mungkin saya menolak hal-hal indah yang menghampiri saya, yang jelas-jelas bagi saya itu anugerah.. Anugerah yang datang dari yang maha pencipta, penguasa langit dan bumi.. Mana mungkin saya tak menerimanya, kok ya gak bersyukur banget kalau saya abaikan atau tolak.
Hal-hal indah ini lah yang kerap membuka mata saya, menyemangati saya, menyertai saya di keseharian dan membuat saya bisa berdiri tegak sampai saat ini. Anugerah luar biasa ini juga lah yang membuat saya menikmati hidup, meski terkadang hidup tidak ramah, penuh perjuangan, tapi dengan berbagai hal indah yang terjadi dalam hidup saya, membuat saya yakin menapaki jalan-jalan terjal yang kerap saya lewati.
Bagi saya hal-hal indah ini tak melulu soal cinta, keluarga, namun bisa persahabatan, atau apapun juga. Orang-orang yang hadir dalam hidup saya kerap memberikan berbagai hal indah untuk saya. Kadang tanpa mereka sadari. Namun itu memberi warna dalam perjalanan hidup saya. Hal-hal kecil yang mungkin bagi orang lain sepele, tidak bagi saya, yang terpenting bisa membahagiakan dan menceriakan kehidupan saya.
Saya beruntung, bersyukur diberi hal-hal indah ini.. Saya merasa lebih hidup dan bahagia.
“In my life there are many things
That bring me up and bring me down
And if looked all over the world
I don’t think I could ever have found
Someone who makes my life worth living….”
Terima kasih atas hal-hal terindah yang kalian berikan untuk saya… Terima kasih Tuhan atas anugerah-anugerahMu yang kerap Kau berikan melalui orang-orang yang hadir dalam hidup saya… You’re the best thing that ever happened to me! It’s definitely you!
Ketika hati luka…tubuhpun ikut merasakannya… Ketika tubuh luka begitu pula hati…
Tapi..saat ini hati dan tubuh tidak mau saling berkompromi… Mereka memiliki pikiran masing-masing…
Hati ingin segera merengkuh, melepas rindu.. Namun, tubuh serasa kaku, tak mau bereaksi… Diam, tak ingin merasa… Seolah takut..takut akan penolakan…
Saat rasa ini mendera, hati berbicara, namun tubuh mematung… Tak tau apa yang harus dilakukan… Hanya bisa diam, sementara hati ini bergejolak…
Tak mengerti kenapa, mengapa, bagaimana dan harus apa… Mungkin ini saatnya mengistirahatkan hati dan tubuh, dan bila tiba waktunya, hati dan tubuh akan kembali menyatu, kompak seperti sedia kala… Hanya waktu…mungkin hanya waktu yang bisa…
They said time heals… Well, maybe they are right, but who knows… Not even me…
“Just reached me out then, you would know that you are no dreamer.” Eyes On Me, Faye Wong.
Berdamai dengan masa lalu? Kenapa tidak? Mungkin banyak yang bisa bilang seperti ini… Entah hanya di mulut, atau memang benar-benar bisa… Tapi, tidak semua orang mudah untuk berdamai dengan masa lalu…
Berdamai dengan masa lalu sendiri mungkin akan lebih mudah (atau tidak?) dibanding berdamai dengan masa lalu seseorang yang dekat dengan kita. Saya salah satunya…
Dulu, saya kerap mempunyai kesulitan untuk ‘berdamai’ dengan masa lalu seseorang…apalagi sejarah percintaan orang yang dekat dengan saya. Aneh? Mungkin bagi kalian…tidak bagi saya…
Saya ‘jealous’ dengan masa lalu siapapun yang dekat dengan saya, karena saya pikir kok bukan saya. Apalagi kalau ada saat spesial ‘masa lalu-masa lalu’ itu bersama orang yang dekat dengan saya yang dituliskan di blog, atau dibuatkan puisi atau apa lah… Hal-hal yang ternyata saat bersama saya mereka tidak melakukannya… Wajar dong kalau saya begini…
Teman-teman saya bilang, “itu hanya masa lalu, yang penting saat ini hatinya buatmu.” Tapi yaaah kadang hati ini juga pingin dong ada hal-hal spesial dilakukan untuk saya, kalau bisa sih jangan sama, yang completely different dan dilakukan dengan hati.
Kita pasti punya masa lalu.. Baik itu yang indah ataupun buruk sekalipun… Kita tak bisa menghapusnya, namun kita bisa meninggalkannya, dan maju ke depan, tanpa perlu menengok ke belakang… Masa lalu bisa dijadikan bahan untuk introspeksi diri atau memacu diri untuk menjadi lebih baik dan tidak mengulang kesalahan yang sama..
Jadi…yuk jalan ke depan, dan tidak mundur lagi… Lihatlah masa depan kita membentang luas disana, menunggu kita merengkuhnya… Seperti quote ini : “When you’re sad, just remember one permanent fact… EVERYTHING CHANGES. Tomorrow might be different!”
Ps : tapi benernya tetep mau lho dibikinin puisi atau ditulisin di blog… Hahaha…gelo ini maah
Perhatian… Kata yang sederhana namun sarat makna. Terkadang kita tak menyadari bahwa semua orang butuh perhatian atau diperhatikan. Mulai dari hal kecil hingga hal besar. Sekecil apapun bentuknya itu akan menjadi sangat indah jika dilakukan dari hati yang terdalam, bukan sekedar basa basi belaka.
Bayangkan, saat kita sedang menggebu-gebu ingin menunjukkan sesuatu atau apapun itu kepada seseorang, tiba-tiba orang itu hanya menengok sebentar tanpa melihat dengan seksama apa yang akan kita tunjukkan, atau hanya melihat sekilas dan berkomentar seadanya malah bahkan kadang tidak berkomentar….rasanya itu menohok sekali. Seperti tidak dianggap! Padahal kita berharap orang yang kita kasih liat atau tunjukkan sesuatu itu berkomentar atau paling tidak tertarik dan akhirnya saling membahas. Kadang perlakuan itu seperti tamparan atau apa ya kata yang tepat? Saya belum menemukannya. Yang jelas, merasa diabaikan atau terabaikan itu sudah!
Perhatian… Tak harus selalu memberi barang atau benda untuk menunjukkannya. Cukup sapaan, senyuman dan menanyakan kabar, rasanya itu juga sudah cukup. Apalagi kalau akhirnya berlanjut ke percakapan, saling berbagi cerita, pengalaman, dan berempati. Waah rasanya akan indah sekali. Sayangnya, akhir-akhir ini entah kemana ya perhatian itu? Atau dia sedang mencari alamat atau malah nyasar entah kemana? Curcol dikit deh wkwkwk.
Kita berharap orang lain memberi perhatian untuk kita. Tapi…terkadang kita sendiri lupa untuk melakukan hal yang sama. Nah, kalau kita sudah melakukannya, namun orang lain tidak…Yaaah itu mah nasib namanya hehehe…
Seperti quote favorit saya : Don’t expect too much, Cause that too much can hurt you so much. So, intinya mah ikhlas. Memberi perhatian tanpa mengharap sebaliknya… Itu butuh keikhlasan. Do what we can do! Bukankah hati kita akan bahagia bila membuat orang lain senang? Jadi…sudahkah Anda memberi perhatian kepada orang lain hari ini?
Have a great Day!
Jujur, saya bingung harus mulai darimana. Berkali-kali saya mencoba menuliskan kata yang tepat, tapi berkaki-kali juga saya menghapusnya. Memang, mungkin tak kan pernah ada kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan saya saat ini.
Ini semua bermula pada hari Jumat malam, 17 Februari 2012 lalu saat ada pengumuman rolling an di kantor. Ternyata….saya terkena rollingan itu…. Bagi saya pribadi, saya sudah terbiasa di rolling. Bagaimana tidak, sepanjang 10 tahun perjalanan saya disini, sudah beberapa program saya lewati. Sedikit menengok ke belakang, saya selama 8 tahun menjadi reporter, video journalist, koordinator liputan, pemangku program TKP, balik lagi ke koordinator liputan dan selama 2,5 tahun belakangan saya pindah ke magazine yang masih dibawah naungan News Departemen.
Di magazine saya menjadi pemangku program Jejak Petualang, Peri Gigi, Geoni Si Kembara, Dunia Air, Dunia Binatang, sebelum akhirnya mendarat di Laptop Si Unyil dan Buku Harian Si Unyil selama hampir 10 bulan, dan kembali di rolling ke Kordinator Liputan dan Daerah.
Jadi bagi saya, di rolling itu biasa, saya sebagai prajurit akan selalu siap di manapun saya ditugaskan. Tapi, kenapa kali ini begitu berbeda? Tanya kenapa? Hihihi….
Saat pengumuman rollingan keluar, bertubi-tubu BBM dan SMS datang pada saya malam itu dari teman-teman Keluarga Unyil. Mereka mengungkapkan kesedihan dan kekecewaannya saat tau saya dipindah. Mereka menyatakan kesedihannya…. Saya…saya terharu, bahkan sampai menitikkan air mata…(saat saya menulis inipun, tangan saya bergetar…dan rasanya ingin menangis). Saya tidak menyangka di keluarga ini saya benar- benar dianggap keluarga, disayang, dan ditangisi… Ya Tuhan…saya sedih… Bukan karena di rolling, tapi karena saya menyayangi keluarga saya ini, saya menyayangi teman-teman saya, yang benar-benar bersedih atas ‘kepergian’ saya.
Pun saat saya masuk kantor hari Senin, 20 Februari 2012 dan bertemu keluarga saya, masih jelas teringat dan terpatri di benak dan pikiran saya, bagaimana mereka menitik kan air mata buat saya. Saya yang dengan segala kekurangan yang ada masih bisa ditangisi….ini yang sangat berat..berat bagi saya… Hal ini juga berlanjut hari berikutnya masih ada teman yang menangisi saya. Aduuuh, saya tak bisa berkata apa-apa lagi… Sebegitu dalamnya pertemanan dan kerjasama yang kuat di keluarga ini. Bahkan saya masih ‘ditahan’ seminggu untuk membereskan segala kerjaan yang pasti akan saya berikan yang terbaik untuk keluarga ini, di saat-saat terakhir saya disini….

Teman-teman, saya hanya pindah meja, hanya pindah program, dan tidak pindah kantor… Kita masih akan sering bertemu, bercanda, makan siang bareng, bahkan saya akan selalu ada di saat kalian membutuhkan saya…untuk curhat sekalipun. Saya tidak akan meninggalkan kalian, kalian selalu ada di hati saya. Terima kasih atas kerjasama, pertemanan dan kekeluargaan yang kalian berikan buat saya.
Kalian hebat bukan karena saya, tapi karena usaha dan perjuangan kalian sendiri, saya hanya bisa memberi semangat dan doa. Kalian membuat saya bangga bisa bergabung dalam keluarga yang hangat ini. Mari kita sama-sama berjuang memberi yang terbaik, yang bisa kita beri, bersama meski dengan program yang berbeda… Mari saling memberi dukungan dan semangat. Jangan bersedih, lepaskan lah saya, agar saya menapak lebih enak di tempat saya yang baru. Doakan saya kawan…Tanpa kalian, saya bukan siapa-siapa…
Mengutip kata-kata penyemangat dari suamiku : “Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk mundur selain ketika masih jaya-jayanya”.
ps :
Terima kasih buat Keluarga Unyil yang selalu hangat, saling mendukung, dan memberi semangat : Gita, Nunu, Munir, Bang Adel, Harris, Feri, Robby, Santi, Akbar, Yayat, Jolie, Galih, Gra, Ano, Angga, Rina, Heli, Kap, Ari, Desty, Hermanto, Ibnu, Ronny, Mas Gatut.
Terima kasih buat teman-teman yang selalu memberi saya semangat : Indri, Sapta, Michael, Ardi, Denis, Abra, Adie ganteng dan masih banyak lagi yang tidak kesebut namanya.
—-Terima kasih—-
Happy Valentine’s Day bagi yang merayakan
. Tulisan ini dibuat bertepatan dengan hari yang katanya hari kasih sayang. Apakah saya skeptis menyambutnya? Tidak. Dulu, saya termasuk orang yang (mungkin) ikutan merayakannya. Saya pada dasarnya romantis…saya menyukai kejutan, perhatian, dan masih banyak lagi… Karena saya terbiasa melakukannya. Bagi saya, diberi setangkai mawar merah itu seperti terbang ke langit ketujuh. Lebay ya? Iya, tapi itu yang saya rasakan dulu.
Berharap punya cowok yang romantis? Sudah pasti…kayaknya gimana gitu deh rasanya hahaha. Tapi…saat saya menjalin hubungan dengan lawan jenis kok ya kebetulan gak ada yang romantis. Sekali nya dikasih bunga pertama kali malah dari sahabat dekat saya yang cowok.. Uuuuh padahal kan berharap dari sang pacar atau kekasih hahaha, Tengkyu ya Frans, atas mawar merahnya puluhan tahun silam saat saya gak dapat dari pacar. Ngomong-ngomong soal sahabat saya ini, Frans, dia benar-benar sahabat sejati saya, yang selalu ada saat suka maupun duka, bahkan kadang malah banyakan dukanya dia menemani perjalanan hidup saya sejak pertama kali masuk kuliah di Unpar. Apalagi pas putus cinta, Frans selalu ada untuk mendampingi saya saat nangis-nangis darah (Lebay lagi) hahaha. You’re the best Friend that i ever had.
Kadang saya sadar, saya menuntut kesempurnaan dari setiap orang khususnya orang terdekat saya. Tapi kadang itu terjadi tanpa saya sadari juga lho. Saya ingin mereka memperlakukan saya seperti saya memperlakukan mereka. Saya ingin mereka menganggap saya istimewa atau spesial dengan cara yang saya harapkan. Padahal mereka juga punya cara sendiri untuk mengungkapkannya, dan berbeda jauh dari harapan saya. Meski cara mereka itu tidak salah. Hanya berbeda. Namun terkadang saya buta, jadi menganggap hal itu jadi biasa saja karena tidak sesuai dengan kemauan saya. Saya salah… Mereka pribadi yang berbeda, tidak sama dengan saya… Mereka punya cara tersendiri untuk mengekspresikan perasaan, cinta, dan sayang mereka kepada saya. Saya tidak bisa memaksakan cara saya kepada mereka.
Akhirnya saya mencoba…mencoba melihat dengan sudut pandang berbeda, sudut pandang mereka…dan saya menemukan ketulusan…dan cinta disana, dengan cara yang berbeda…cara mereka sendiri…cara itulah yang paling sempurna di mata saya kini…bukan cara yang saya mau mereka lakukan untuk saya. Terima kasih telah menyadarkan saya…. Selamat menikmati hari kasih sayang which is setiap hari adalah hari kasih sayang bagi saya kini.
Xoxo….
Quote : “Do what you love and love what you do” saya rasa itu terjadi pada saya. Atau kalian juga merasakannya? Yang jelas, saya bisa bertahan 10 tahun di dunia jurnalis yang saya geluti sedikit banyak ya karena saya melakukan apa yang saya cintai dan mencintai apa yang saya lakukan ini.
Dunia dan pekerjaan yang saya geluti ini memang saya lakukan dengan ‘hati’. Maksudnya ya bekerja dengan hati, dan sepenuh hati. Meski…buanyak banget hambatan, rintangan, tantangan, bahkan kerikil-kerikil tajam dan batu-batu besar menghadang. Menjalaninya 10 tahun ini bukan mulus-mulus saja lho.. Tangis dan tawa mewarnai perjalanan ini. Bahkan sampai mewek-mewek, nangis-nangis darah..hahaha, lebay kalau ini mah.
Tapi jujur, meski capek, kesal, dan lain-lain, saya melakukannya dengan hati, dengan ikhlas dan penuh rasa syukur. Deo Gratias (terima kasih Tuhan dalam bahasa latin) saya melewati 10 tahun pertama, dan saya berharap masih akan ada 10 tahun, 10 tahun berikutnya selama saya masih mampu.
Dimulai September 2001 yang telah mengubah perjalanan hidup saya, dari seorang arsitek menjadi jurnalis. Berawal dari reporter tv, saya menjalani kehidupan penuh warna, tantangan dan masih banyak lagi. Suka dan duka mengiringi perjalanan ini. Jangan salah lho, liputan saya kerap membutuhkan stamina prima dan otak yang harus diperas-peras, tapi ya itu tadi, saya cinta bidang ini. Ibarat first love never die deh. Hahaha.

FOTO KIRI : BARENG LUPI DI PERBATASAN SEBATIK-MALAYSIA. FOTO KIRI : BERSAMA TIM SURAT SAHABAT DAN JELAJAH MASUK KORAN LOKAL.
Nah, setelah bertahun-tahun jadi reporter akhirnya saya dipercaya menjadi seorang vj alias video journalist (eh saya vj perempuan pertama lho di Trans 7 *bangga
). Menjadi vj itu bukan hal yang mudah dan menjadi tantangan tersendiri. Bayangkan, menjadi reporter sekaligus camera person, yang dulu sebelumnya tak akan pernah terbayangkan di benak saya. Tapi… Sekali lagi, saya menyukai nya, jadi saya anggap ini pembelajaran buat saya, bagaimana saya bisa melakukan keduanya dalam satu waktu, berpikir menembus nara sumber, mendapatkan berita yang oke dan menghasilkan gambar yang indah.
Menjadi vj ini benar-benar berkesan, dan punya cerita sendiri. Melakukan investigasi sendiri, jatuh bangun, pontang-panting sendiri. Tapi seruuuu… Asyiiik, dan puas karena semua saya lakukan sendiri…kepuasan yang tak ternilai, pun ditambah pembelajaran yang sangat berharga. Bahkan dalam satu hari minimal 3 berita saya dapatkan seorang diri alias jadi vj ini.. Puji Tuhan.
Makin kesini, apalagi setelah di belakang meja alias putar dan peras otak terus, saya pun masih dituntut untuk terus belajar.. Pusing-pusing, susah-susah, ayo tetap berusaha, itu yang saya selalu coba lakukan, dan lagi, tetap tersenyum menghadapi sesulit apapun tantangan yang ada. Mentok? Sering, tapi bagaimana kita bisa mencari jalan lain..meski kadang terkesan buntu. Ya itu tadi karena saya cinta pekerjaan dan profesi ini plus apabila dilakukan dengan hati, makin menambah semangat saya.
Saya juga bukan orang sempurna, kegagalan, kesalahan kerap saya lakukan. Tapi saya tidak mau terus-menerus meratapinya, yang harus saya lakukan adalah bangkit, semangat dan terus tersenyum di tengah kepahitan (ciee keren kan bahasanya :p).
Bagi saya tiap hari saya belajar, saya tidak mau cepat berpuas diri. Saya sadar kalau saya cepat berpuas diri, saya menciptakan tembok di diri saya, sehingga saya membatasi diri dan tidak akan maju. Padahal tiap hari kita dituntut untuk belajar, belajar dan belajar.
Cinta akan pekerjaan dan profesi ini membuat saya mencoba untuk selalu bertahan di tengah badai yang tak tau kapan akan datangnya, karena saya tau, di balik badai itu nantinya akan ada sinar matahari yang cerah, yang akan membawa saya pada dunia yang indah (alamaaak, bahasaku gak nahaan
).
Cinta memang bisa mengalahkan segalanya, baik itu cinta pada pekerjaan, lawan jenis atau siapapun dan apapun. Kita akan melakukan apapun demi cinta. Karena itu, atas nama cinta juga mari kita saling berusaha menjalani hidup ini, pekerjaan, atau apapun sehingga semuanya akan berjalan selaras dan indah, meski tak menutup kemungkinan akan jatuh bangun dalam mencapai keberhasilan.. Selain cinta, bersyukur dan berdoa adalah salah satu kuncinya. Puji Tuhan. Deo gratias. Amin.
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « May | ||||||
| 1 | 2 | 3 | ||||
| 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |
| 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 |
| 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 |
| 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | |
| Rikha Indriaswari on BEST FRIENDS ARE THE ONE THAT … | |
| frans on BEST FRIENDS ARE THE ONE THAT … | |
| indriyash on BEST FRIENDS ARE THE ONE THAT … | |
| Sarie Febriane on I DON’T KNOW HOW SHE DOE… | |
| dinsav7 on 10 TAHUN |
Blog at WordPress.com. Theme: Nishita by Brajeshwar.