KETIKA HARUS BERDAMAI DENGAN KEADAAN

20120403-143704.jpg

Dini hari tadi sekitar pukul 01.00 saat saya masih terjaga membuat tulisan untuk blog ini terdengar keramaian di luar sana, ternyata banjir kiriman datang dan membuat kali pesanggrahan yang tak jauh dari rumah saya meluap. Tak ayal, keluarga saya pun segera mengeluarkan kendaraan bermotor dan menempatkannya di luar sana tempat yang lebih tinggi, untuk mengantisipasi naiknya air.

Benar juga, air pun datang tanpa bisa dikontrol. Anak-anak yang tengah terlelap pun terpaksa kami bangunkan, dan mulailah kami membawa kasur, barang-barang lainnya ke lantai atas, tempat yang aman dari terjangan banjir ini. Gotong royong, bahu membahu menyelamatkan barang pun terjadi di tengah kesunyian dini hari tadi. Kepala rasanya mau pecah, semua berkecamuk. Kesal, sedih, marah dan pusing ada di kepala saya ini.

Bagi yang tidak pernah merasakan terkena musibah banjir mungkin tidak akan pernah mengerti rasa capek yang dirasakan saat banjir datang dan setelah banjir usai. Bagaimana tidak? Sesudah banjir akan menyisakan lumpur-lumpur tebal dan kotoran-kotoran lainnya, sehingga usai banjir surut nantinya, kami akan lebih capek luar biasa untuk membersihkan rumah, menata kembali barang. Jadi jangan pernah berpikir bahwa setelah surut kami bisa kembali melakukan aktivitas kami. Karena masih banyak yang harus kami lakukan.

Padahal saya sudah senang melewati bulan Februari dan Maret yang diprediksi akan terjadi banjir 5 tahunan di Jakarta. Eeeh lha kok malah di bulan yang tak terduga, April ini malah mengalaminya. Meski tidak separah 5 tahun lalu yang sampai ketinggian 2 meter. Bayangkan, 2 meter! Lantai bawah rumah kami terendam habis kala itu. Saat ini (semoga) tidak terjadi banjir mengerikan itu. Kedalaman air dalam rumah setinggi lutut orang dewasa, di halaman sepaha orang dewasa dan di jalanan sepinggang orang dewasa, karena rumah kami lebih tinggi dari jalanan depan.

Kesal, sedih, marah saya rasakan. Saya gak mau capek, bahkan hari ini saya ada janji yang musti ditepati, tapi apa daya, saya harus berdamai dengan keadaan ini. Marah, kesal, sedih pun tak akan merubah keadaan. Meratapi terus-terusan juga tak akan seketika menghilangkan banjir yang masuk ke dalam rumah.

Karena itu saya memutuskan untuk mencoba..dan harus berdamai dengan keadaan ini. Menerima kenyataan dengan hati tenang, meski sulit. Tapi toh, saya tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Berdoa supaya musibah ini segera terlewati akan lebih baik dibanding dengan menyesalinya.

20120403-143821.jpg

Advertisements

11 thoughts on “KETIKA HARUS BERDAMAI DENGAN KEADAAN

  1. Bener banget bu din..capek kl selalu terus mikirin susahnya mending dibikin happy aja ya… Mikir + aja deh… itung2 gak usah ngepel sampe banjir ilang hahahah …tp tetep berharap banjir surut sambil membawa teman2nya itu si (lumpur n’kotorannya) jadi kita gak perlu bersih2 lagi,mmm mungkin gak ya? *hidupteamperahukaret*

    Like

  2. Aq jg sering merasakan kebanjiran mbak..tp alhamdulillah G̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ kebanjiran lg, jd tau bgt gmn rasanya capeknya beresin rmh saat banjir dan setelah banjir. Mau setinggi apapun banjir yg msk rmh tetep sama capeknya. Semoga cpt surut ya mbak banjirnya..jg kesehatan yg plg penting.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s