BERI MEREKA KESEMPATAN…

Sudah sebulan lebih saya menjalani peran yang bagi saya itu ‘berat’. Berat dalam arti saya harus mengantar, menunggu, dan menjemput anak saya Alicia yang berkebutuhan khusus (disingkat abk/anak berkebutuhan khusus) untuk bersekolah di Sekolah Dasar. Sehabis melakukan tugas saya itu, saya langsung menuju kantor, tepatnya tempat editing untuk bekerja. Berat karena apa? Saya melakukan double job, yaitu tanggung jawab saya sebagai ibu dari abk dan sekaligus pekerja. Namun, ini semua saya lakukan dengan hati yang senang, karena saya mencintai 2 pekerjaan ini. Seandainya anak saya tidak berkebutuhan khusus, mungkin saya tak perlu sampai harus menunggu nya di sekolah. Tapi, abk butuh perhatian, dan kasih sayang lebih agar dia mampu untuk akhirnya menjadi anak ‘normal’.

Cc panggilan Alicia, merupakan abk yang didiagnosa ADD/Attention Deficit Disorder. Dalam pelajaran Cc mampu menyerap segala ilmu yang diberikan, lantaran dia mempunyai Photographic Memory, dimana daya ingatnya sangat luar biasa. Kekurangannya, Cc belum bisa bersosialisasi, hanya ikut-ikutan, dan terkadang asyik sendiri. Namun, dia bisa dipanggil, disapa, disuruh melakukan apapun. Hanya saja komunikasi kurang, masih sering membeo, padahal ngomong lancar. Kalau tidak ditanya Cc jarang membuka percakapan. Dan terkadang masih suka tantrum, atau tiba-tiba menangis atau marah tanpa sebab. Menurut psikolog, itu akibat Cc belum bisa menyampaikan atau mengungkapkan perasaannya. Ini yang musti terus diperbaiki.

Alicia - Cc

Alicia – Cc

Cc menunjukkan peningkatannya tatkala dia masuk ke sekolah khusus di dekat rumah, disana Cc dilatih untuk memperbaiki semua kekurangannya dan Puji Tuhan Cc perlahan mulai bisa mengontrol dirinya dan sangat terlihat perkembangannya disana. Mulai tahun ajaran baru kemarin, Cc sudah didorong dan direkomendasikan untuk bersekolah di sekolah inklusi yaitu sekolah umum atau sekolah biasa yang menerima anak-anak berkebutuhan khusus. Jadi sekolah ini campur, antara anak biasa dan abk. Bagusnya di sekolah inklusi swasta tempat Cc bersekolah ini, 1 kelasnya hanya berisi maksimal 15 anak, dengan 2 guru. Sehingga anak-anak akan mendapat pengawasan yang melekat. Amin. Namun, peran orang tua sangat dibutuhkan dalam kerjasama sekolah dengan orang tua murid, agar abk bisa lebih baik dan menjadi anak normal.

Nah, selama saya mengawasi Cc di sekolah inklusi ini banyak sekali yang saya lihat dan membuat saya makin yakin bahwa anak saya bisa. Banyak anak di sekolah ini yang (maaf) kondisinya tidak lebih baik dari Cc, ada yang sama sekali belum bisa berkomunikasi, benar-benar hiperaktif, asyik dengan dunia sendiri dan susah sekali dipanggil, serta masih banyak lagi. Disini saya dibukakan mata, agar lebih mensyukuri keadaan. Toh, anak-anak itu adalah karunia luar biasa dari Yang Maha Kuasa bukan?

Keterangan : 1. Foto atas : saat merayakan ulang tahun teman sekelasnya 2. Foto bawah : saat mengikuti lomba 17 an di sekolah

Keterangan :
1. Foto atas : saat merayakan ulang tahun teman sekelasnya
2. Foto bawah : saat mengikuti lomba 17 an di sekolah

Dari berbagai obrolan saat saya menunggu Cc, ternyata banyak abk yang berprestasi bahkan sampai bisa menjadi juara fisika di negeri orang. Salut!! Bukan hanya itu, abk lulusan SMK di sekolah inklusi ini bahkan ada yang bisa diterima di salah satu universitas terbaik disini. Luar biasa!!! Tapi saya tak berharap muluk-muluk, saya hanya ingin Cc normal, bisa berkomunikasi alias ngobrol dengan lancar dan bersosialisasi dengan orang lain. Itu butuh proses, dan jangan berharap instan, namun saya akan terus berusaha meski dengan tetesan keringat serta air mata, demi mewujudkan masa depan Cc yang lebih baik dan mandiri. Jangan salah lho, Cc pernah menjadi juara harapan 1 lomba tuna grahita se Jakarta Selatan dengan perjuangannya, melalui audisi hingga lolos ke final. Sebagai mamanya, saya memberi dukungan penuh dan bahkan mewek-mewek terharu saat anak saya ini berani tampil di depan publik.

saat berlaga di final lomba nyanyi se Jakarta Selatan

saat berlaga di final lomba nyanyi se Jakarta Selatan

Sebenarnya Cc bisa bersekolah di sekolah umum yang bukan inklusi, namun pernah saya mencoba, dan ditolak. Padahal harusnya bisa, dengan mendatangkan shadow teacher yang akan mendampingi abk saat bersekolah. Sempat saya sedih, anak saya sebenarnya bisa, kenapa ditolak? Seolah penyakitan atau apa. Padahal abk butuh kesempatan, kesempatan bergaul dengan anak biasa agar mereka juga bisa menjadi anak biasa. Ternyata bukan hanya saya, ibu-ibu lain juga mengalami hal yang sama. Masih banyak yang kurang atau malah tidak berempati dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Padahal yang mereka butuhkan hanya kesempatan. Toh mereka sehabis bersekolah tetap menjalankan terapi untuk menjadi anak yang lebih baik.

Belum lagi kasus bullying. Saya pernah menulis soal bullying ini. Bisa ditengok di http://wp.me/p1rWgI-6C saya mendapat cerita dari orang tua abk dimana anaknya mendapat bullying dengan ejekan-ejekan dari anak-anak biasa. Sakit hati dan sedih pastilah dirasakan orang tua abk. Jangan salah, di awal Cc sekolah di sekolah inklusi ini pun Cc sempat mendapat bully dari kawan-kawan normalnya. Di depan mata kepala saya sendiri, saya melihat saat anak-anak itu mengejek Cc yang mempunyai kebiasaan memegang dagunya bila gregetan. Cc diejek. Saya yang sedih dan sakit rasanya. Padahal Cc cuek, karena dia tidak mengerti…tapi hati saya rasanya diiris-iris. Ini sudah sekolah inklusi lho, apalagi yang sekolah biasa 😦 saya tidak berdiam diri, saya laporkan ke guru kelas dan guru pengawas, dengan sentuhan mereka, akhirnya anak-anak normal itu pun diberi pengertian sehingga tidak mengejek abk dan justru harus membantu abk. Fyi, sekolah inklusi Cc ini memang mempunyai visi dan misi bagi anak normal untuk mempunyai empati dan membantu abk. Good!! Thanks God!

Me and my two angels

Me and my two angels

Rasanya empati inilah yang belum dimiliki semua orang terhadap abk. Coba put yourself in my shoes, then you’ll understand how it feels to be a mother of kid with special needs. Namun saya sangat salut dan bangga terhadap teman saya Revo, yang justru menyekolahkan anaknya yang normal di sekolah inklusi agar anaknya mempunyai empati terhadap teman-teman yang berkebutuhan khusus. Salut Vo!!! Tak hanya itu, atasan saya Mas Gatut, memberi dukungan penuh serta doa yang tak putus dari beliau sehingga saya bisa membagi waktu saya dalam hal mengurus anak saya ini dan bekerja. Sungguh, suatu keberuntungan dan anugerah luar biasa, saya mempunyai teman-teman dan atasan yang mempunya empati yang luar biasa terhadap saya dan Cc sehingga saya bisa memberi perhatian lebih ke anak saya ini. Terima kasih semua!! Kiranya Tuhan membalas kebaikan kalian. Amin. Tidak semua memang mempunyai teman atau atasan yang mengerti, tapi hei, mari kita beri pengertian kepada mereka. Banyak orang memandang sebelah mata terhadap abk, padahal mereka bisa lho gugling seperti apa abk, ada tingkatannya, kalau memang parah, ya tidak akan disekolahkan di sekolah umum, tapi kalau memang bisa, mengapa tidak? Itu justru akan memberi anak-anak berkebutuhan khusus suatu dorongan dan keinginan untuk menjadi anak normal. Dukungan atau empati itu bisa kok dengan hal yang sederhana, misalnya tidak menggunakan kata autis sebagai guyonan. Bagaimana perasaan orang tua yang mempunyai anak autis? Saya masih ingat, ada seorang teman. Kala itu (kejadian ini sudah lama sekali) dia menge tweet dengan menggunakan kata autis tidak pada tempatnya. Saya mention dan mengingatkannya, apa yang terjadi? Dia malah tidak membalas bahkan unfollow saya. Padahal dia seorang ayah yang mempunyai anak, dimanakah empati itu? Dia juga orang berpendidikan, dengan bidang kerja yang sama namun mengapa justru malah seperti ini. Ah, lupakan, banyak orang lain yang punya empati dibanding seorang ini kok.

Di sekolah Cc ini saya merasa terharu melihat abk-abk yang bersekolah disini. Mereka lama-lama bisa menyapa, sekedar mencoba mengajak bicara meski terpatah-patah dengan kondisi yang berbeda-beda. Kami disini sebagai orang tua yang menunggu anak, juga saling menjaga, kalau ada yang tiba-tiba tantrum, atau ada yang mau keluar pagar, kami juga ikut membantu mengawasi selain satpam dan guru-guru pengawas lainnya. Setiap jam istirahat, selalu ada guru jaga yang mengawasi anak-anak bermain, yang menyendiri atau asyik sendiri akan diarahkan supaya bergaul, dan lain-lain. Tanpa cinta dan kasih sayang ini semua tak akan terjadi. Betapa hebat pengabdian para guru disini. Ya cinta, akan mengalahkan segala kesusahan dan kesulitan yang kita hadapi seberapa beratnya itu.

Ada hal lain yang mengganggu pikiran saya. Saya beruntung bisa menyekolahkan Cc ke sekolah inklusi swasta meski dengan biaya yang tidak sedikit. Namun semua saya lakukan demi anak saya. Tapi bagaimana dengan yang (maaf) kurang mampu. Ini mengusik pikiran saya. Mempunyai abk saja merupakan hal yang sedikit banyak menyita pikiran dan waktu, bagimana dengan yang lain ini? Misalkan saja seorang ibu penjual sayur di pasar, yang (maaf) mungkin tidak ada biaya dan waktu untuk memberi perhatian lebih kepada abknya, sementara di sisi lain, dia juga harus bekerja. Itu yang terlintas  di benak saya. Betul ada sekolah inklusi negeri, namun berdasarkan obrolan dengan sesama orang tua murid yang pernah survei sekolah inklusi termasuk sekolah inklusi negeri, mereka berpendapat sekolah inklusi negeri masih kurang, khususnya dalam jumlah murid yang tergolong banyak dalam 1 kelas, mencapai 30-40 anak dengan 2-4 abk. Meski dengan 2 guru, namun bagaimana dengan pengawasannya? Rasanya berat. Belum lagi terapi. Abk membutuhkan terapi juga, dengan biaya tidak sedikit. Lalu bagaimana dengan nasib abk-abk ini? Saya berharap suatu saat ada terapi murah untuk abk-abk kurang mampu. Karena biar bagaimanapun mereka juga berhak mendapat hidup yang lebih baik dan normal. Semoga…suatu saat mereka bisa mendapat kesempatan ini.

Sumber : facebook.com

Sumber : facebook.com

Tapi satu hal yang saya tekankan, adanya pengertian kepada khalayak luas bahwa abk juga bisa maju, asal diberi kesempatan dan dukungan. Banyak kok abk yang berhasil dan sukses. Coba tengok Albert Einstein. Einstein menderita Sindrom Asperger, sebuah kondisi yang berhubungan dengan autisme, dan belakangan diketahui penyandang disleksia. Kegemaran Einstein adalah membaca, berfikir dan belajar sendiri. Tak heran jika guru-guru menganggapnya pemalu, bodoh, malas belajar, dan pelanggar tata tertib. Namun lihatlah dia….

Sumber : the guardian.com

Sumber : the guardian.com

Siapa yang tak kenal Ludwig Van Beethoven, yang merupakan komposer dunia penyandang tunarungu. Beethoven sudah dianggap sebagai salah satu pengarang lagu terhebat sepanjang sejarah. Ia melakukan pertunjukan pertamanya sebagai pianis pada usia 8 tahun. Pada usia 20an ia menjadi terkenal sebagai seorang pianis handal yang memiliki bakat tak terduga dan improvisasi yang menakjubkan. Akan tetapi pada tahun 1976, Beethoven mulai kehilangan pendengarannya. Namun justru membuat dia termotivasi untuk menciptakan berbagai karya musical yang terkenal sampai sekarang, seperti : The 9th Symphony, The 5th Piano Concerto, The Violin Concerto, The Late Quartets, and his Missa Solemnis. Pencapaiannya ini justru saat menjadi tuli selama 25 tahun atau lebih.

Cita-cita saya hanya satu….mengantar Cc menjadi anak normal, mandiri dan bisa seperti anak lainnya…. Saya percaya dengan restu Nya Cc bisa!!!

Advertisements

33 thoughts on “BERI MEREKA KESEMPATAN…

  1. Din.. *hugs* Cc yang dulu masih baby di foto hape O2-mu (jadul) itu sudah sebesar ini? Oh how time flies… She’s very beautiful ya, Din. Look at that smile. 😉

    Well.. how normal is normal, how abnormal is abnormal. Itu semua relatif. Dan aku turut bahagia, di sela beratnya kehidupanmu, ternyata Dini masih bisa merasa bersyukur ketika Tuhan menunjukkan hebat-Nya melalui hal-hal “kecil”. Begitulah luar biasanya Tuhan, selalu menyelipkan keindahan-keindahan dalam kesempitan/kesukaran hidup. Glad you found it too.

    Tough life for tough girls. You guys can do it and one day, you will harvest the beautiful seeds you sow right now. I’m proud of you all. :*

    Like

  2. Din.. sabar ya.. Gue sendiri pernah kok “ngalamin” jadi abk walau dalam case berbeda (fisik). Gue fisiotheraphy 7th dari baby. Dan memang kena juga soal bully, “cap”, dsb. Ya gimana kaga, gue masuk SD dengan sepatu dari besi kayak robocop 😀 Makanya berdasarkan pengalaman pribadi, gue kayak loe juga, rajin ngingetin anak2 gue (students yg masih ABG dengan bahasa yg cenderung becanda ngawur). It takes years Din.. yg penting, keep going. One step at a time. Gue doain CC bisa meraih yang terbaik dalam hidupnya ya 🙂

    Like

  3. Aku bangga padamu Mbak.. Ditengah Kesibukan Pekerjaanmu, kamu masih sempat melakukan hal itu.. Jarang ada seorang wanita karir bisa seperti yg Mbak Dini lakukan malah mereka menggunakan jasa babysiter utk mengurusnya krn tidk mau ambil resiko, dan malah mereka jarang memberi perhatian pada anak abk-nya.. Aku jd nangis terharu membaca postinganmu ini mbak.. Aku perca CC bisa menjadi seperti anak” normal lainnya.. Allah Bapa Sangat Baik Mbak.. Dia akan berikan kesempurnaan pd anak” yg dikasihiNya.. Bunga Bakung dan burung diudara sa diperhatikanNya apalagi CC yang memiliki seorang ibu yg “super hero mom”seperti Mbak Dini.. Stelah aku membaca postinganmu ini mbak, aku lgsg berdoa buat CC, Mbak Dini dan Kelaurga.. Kita sama-sama berdoa utk CC Mbak.. Doa yg penuh iman dan sungguh-sungguh pasti kita akan menerimanya dan sangat besar Kuasanya (Mat. 21:22)

    Semangaaaat»(ง’̀⌣’́)ง untuk “SuperMom” seperti mu Mbak Din..

    Mujijat Masih Ada
    Mujijat Nyata

    º†̬̩̊º GÓÐ ♡̬̩̃̊ ˚*BLЄ̲̣̥SS*˚ ♡̬̩̃̊ Y☺U º†̬̩̊º

    Like

    • Duh kamu bikin aku terharu mau nangis. Aku cuma ibu biasa yang berusaha untuk anak2 ku khususnya yg abk. Masih banyak kekuranganku juga. Tapi aku berusaha. Makasih untuk doanya yang luar biasa. Iya Tuhan akan memberi yang terbaik untuk Cc. Amin. *hug

      Like

  4. Kelebihan CC dari anak abk lain adalah dia punya supermom seperti lu,Din. Gw punya sahabat yg anaknya abk jg, tp perhatiannya jauh dari perhatian lu ke CC. Smua diserahkan ke baby sitter. Kl dia spt lu, mungkin anaknya bisa lbh baik karena yg gw liat, anaknya bukan anak yg bodoh, bahkan IQnya pun tergolong tinggi. So thank God Tuhan kasih CC ke lu begitu juga sebaliknya, CC sangat beruntung punya mama kyk lu 🙂 tetap semangat ya,jeng. 4 thumbs up

    Like

  5. Din, kebetulan raisya jg sekolah di sekolah inklusi, dimana memang tiap kelas ada maksimal 1 anak yang berkebutuhan khusus. Gw salut banget sama perjuangan loe, krn gw jg liat sendiri temen2 sesama ibu di sekolah raisya yg anaknya abk juga punya semangat yg sama dgn loe. Bagusnya sekolah inklusi menurut gw memang krn salah satunya anak2 yg ‘normal’ diajarkan utk bs menerima anak2 abk dalam pergaulan sehari2, kadang malah misal ada anak abk yg sedang tantrum ditenangkan oleh temannya yang lain. Gw bersyukur skrg sdh lbh banyak sekolah inklusi, shg membuka peluang anak abk utk bs sekolah dan bergaul dgn lbh banyak teman dan tdk dibeda2 kan…keep fighting din!

    Like

  6. dini pakabar? masih inget aku gak saat liputan di kejagung n pengadilan…
    aku juga rasakan hal yang mirip kamu rasakan, krn anakku di usia 6 tahun msh blum lancar ngomong
    anakku dulu lahir dengan cleft palate (celah langit-langit), sudah operasi, terapi wicara, sampe pengobatan altenatif Nawal (nama anakku) masih blum lancar ngomong juga…..
    well, kalo mau jujur sii emang menguras energi ekstra merawat anak yang ‘sedikit berbeda’ dg anak normal pada umumnya, tp yaaa seperti ortu pada umumnya semua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anak, bukan…??
    jadi, kita cuma bisa terus semangat dan semangat, berdoa dan berdoa…

    “dibalik sulit pasti ada lapang….” aku sangat percaya itu

    warm regards
    Risna Jaknews

    Like

  7. mama dini yg hebat, temanku semasa kecil. aku ikut ngerasain kesulitanmu. seorang abk, apapun diagnosanya mmg perlu dukungan dr semua pihak. mulai dr lingkup terkecil yaitu orgtua, sibling (kakak-adik), klg besar, guru, sekolah, teman2 sampai masyarakat dan pemerintah. wlpn jaman mudah informasi tp tyt gaung ttg abk blm sampai ke masyarakat umum. yuk teman2 yg peduli dg abk, mari kita sosialisasikan kpd siapa saja, bhw abk jg perlu dilindungi dan mdpt kasih sayang yg sama dg anak lain. *peluk dini dan semua great moms

    Like

    • Betul say Amanda, memang masih banyak yang belum paham soal itu, bahkan aku pernah baca ada anak abk yg mau sekolah di sekolah umum, tp gak bs krn ortu anak ‘normal’ mengancam akan mengeluarkan anaknya dr sekolah itu jika si abk masuk. Makasih banyak, doain ya *peluuuk

      Like

  8. Ada kekuatan luar biasa yang Tuhan sudah siapkan untuk bu Dini dan keluarga, karena semua yang terjadi bukan kebetulan dan semua ada tujuan yang tidak bisa dimegerti secara spontan, seiring berjalannya waktu hikmat pasti akan ditambahkan- tambahkan, sehingga semangat bu Dini semakin hari semakin terpupuk dan menghasilkan buah untuk perkembangan Cc O:) salam untuk Cc dari neni ya bu .. 🙂

    Like

  9. Hai mba dini,salut bgt sama semangatmu.saya juga punya putra dgn kondisi khusus seperti cc,boleh saya tanya cc sekolah dimana?

    Like

  10. Mbak, membaca tentang cc.. Anak saya pun demikian. Di usia 3,4 th dan speech delay.. Banyak kemiripan perilaku dng anak saya. Anak saya bisa dipanggil, bisa menerima instruksi, tapi untuk urusan sosial masih sekedar ikut2an kakaknya lari sana lari sini, masih gak aware dng skitar, belum ada interaksi yg genuine dr anak saya ketika ketemu dng sebaya. Pokoknya smua serba imitasi dan ikut2an. Saya melihat anak saya juga blm aware dng dirinya sendiri dan dengan lingkungan skitarnya, ditanya mana fatih, dia diam. Blm mau memanggil ayah, bunda, kakak walau dia tau ayah bunda dan kakaknya. Bicara masih membeo. Terapis bilang jika anak saya add, tapi blm ada diagnosis dr psikolog. Apakah perilaku cc ketika seusia dengan anak saya, juga seperti yg saya jelaskan mbak? Mohon sharingnya ya 🙂

    Like

    • Halo bunda, gak jauh beda bunda sama cc, kalau soal interaksi sosial pun demikian sampai sekarang juga asik sendiri, tapi ada adiknya sekarang yg bisa ngajak bercanda jadi paling gak sudah tidak seperti dulu lagi. Meski tetap tidak bersosialisasi spt anak2 lainnya. Lama2 pasti bisa panggil bunda atau ayah, cc pun demikian. Dulu minta sesuatu hanya nunjuk atau bilang mau ini, atau mau itu. Tapi saya suka nanya ini itu apa? Cc sebutin dong, lama2 dia mulai bisa meski gak sepanjang obrolan orang lainnya. Seiring perkembangan usia lama2 akan memgerti kok. Cuma kita sebagai orang tua jangan langsung memgharap instan perubahannya. Saya kalau melihat 1 perubahan kecil saja itu sudah luar biasa dan bagi saya itu perubahan yang besar. Tetap semangat bunda. Salam.

      Like

      • Iya bunda, karena saya pun masih “gelap” dengan dunia ABK karena saya baru 2 bulan ini menyadari dan masih proses terapi. Fatih sangat suka bercanda dengan kakaknya, dan juga kami orang tuanya. Kadang juga mimik muka fatih tuh “lempeng” kalo ketemu ma orang lain, kadang dengan saya pun begitu. Ada artikel yg menyebutkan jika ADD bisa membaik seiring dengan usia, tentu di intervensi dengan terapi dan stimulus lainnya. Semoga saja bunda.. Saya percaya Allah tidak akan menganugerahkan “produk gagal” pasti ada kebaikan di setiap kejadian..

        Like

      • Bunda musti kuat dan yakin kalau Allah kasih kita anak spesial berarti Dia akan kasih jalan. Bukan jalan yang mudah tapi yg pasti kita percaya jalanNya adalah yg terbaik. Bunda tidak sendiri, banyak yang berjuang demi anaknya. Saya termasuk yang ‘santai’ karena saya yakin dan percaya bahwa pasti ada jalan dan pasti anak spesial selalu diberi kemudahan dan berkat yang lebih. Semangat Bunda

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s