BELAJAR MENERIMA KEKALAHAN

Puji Tuhan…Deo Gratias-Terima Kasih Tuhan, kalimat-kalimat penuh syukur itu saya ucapkan senantiasa tatkala menerima hasil jerih payah Cc dalam bentuk Raport Mid Semester nya. Bagaimana tidak, nilainya lebih dari cukup bagi saya, sesuatu yang tak pernah saya tuntut maupun harapkan dari Cc. Saya sudah bersyukur Cc dapat mengikuti pelajaran dengan baik tanpa mengharap nilai yang bagus, atau bahkan terlalu bagus untuk saya. Saya (seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya) hanya berharap Cc yang berkebutuhan khusus itu bisa menjadi anak ‘normal’, bisa bergaul dengan teman-temannya, bersosialisasi dan mandiri. Sebenarnya itu harapan terbesar saya, tapi ternyata malah diberi ‘bonus’ luar biasa dari Tuhan, yang tak mungkin saya tampik selain saya syukuri.

hasil jerih payah Cc

hasil jerih payah Cc

Namun ternyata ada hal yang patut menjadi perhatian lebih yang memang sudah kami prediksi sebelumnya. Hal tersebut adalah bahwa sepertinya Cc mempunyai ‘ambisi’ atau keinginan dari dirinya sendiri untuk menjadi anak yang ‘hebat’, dan mendapat nilai yang selalu bagus. Ini menjadi kekuatiran tersendiri bagi kami.

Alicia di ulang tahun ke 10 nya

Alicia di ulang tahun ke 10 nya

Sehari-hari, Cc selalu menanyakan : “aku hebat ya?’’ dan juga ” aku pintar ya?” Seolah dia kuatir kalau tidak dianggap hebat atau pintar. Kami pun selalu memberi pengertian kepada Cc. Tapi sepertinya Cc menanamkan ke diri sendiri untuk menjadi hebat. Tak hanya melontarkan pertanyaan di atas kepada kami, namun juga kepada guru di sekolah. Padahal, kami sama sekali tidak menuntut Cc untuk meraih nilai sempurna atau menjadi yang terbaik. Tidak! Kami justru membebaskan anak-anak kami untuk melakukan apapun yang mereka sukai (dalam arti positif). Kami bahkan tidak mengharuskan mereka bisa ini-itu atau jadi ini-itu. Belajar dari pengalaman semasa anak-anak lah yang membuat kami tidak akan memaksakan apapun ke anak, karena kalau mereka tidak suka, nantinya akan berontak dan melakukannya dengan keterpaksaan bukan karena kesadaran (pengalaman boo…:D). Apalagi Cc masih suka tidak sabaran, khususnya dalam hal ketrampilan dan seni rupa. Rasanya kami musti mengajarkan kesabaran dan ketelatenan kepada Cc. Cc kerap tidak sabar mengerjakan ketrampilan di sekolah, inginnya cepat selesai, dan kalau tidak bisa, dia akan menangis. Memang, beberapa anak berkebutuhan khusus (abk) terkadang ada yang mempunyai sifat seperti ini, tidak sabar mengerjakan hal-hal yang butuh ketelitian dan seni khususnya.

Kami pun berdiskusi dengan wali kelas dan guru Cc, usut demi usut, kami baru sadar bahwa Cc ingin menunjukkan kalau dia ‘hebat’ karena waktu itu belum berhasil menjadi juara saat mengikuti Lomba Menyanyi Tuna Grahita Se Jakarta Selatan. Kala itu Cc hanya mendapat juara ke 4 atau Harapan 1, dan terlihat bagaimana tatapan mata Cc yang sedih dan iri melihat anak-anak lain mendapat piala. Sialnya, piala hanya diberikan kepada juara 1-3 saja, mungkin ceritanya akan berbeda jika juara harapan pun diberi piala. Jadi intinya sih Cc pingin dapat piala, hahaha. Saat itu kami sudah menekankan kepada Cc bahwa meski Cc belum berhasil bukan berarti kalah, karena Cc tetap menang di hati kami, dan kalah bukan berarti negatif atau jelek namun sebagai ‘cambuk’ agar tetap berusaha untuk menang di kemudian hari. Tapi rasanya untuk anak biasa pun sulit menerima hal ini, apalagi Cc yang abk.

Alicia di kelas

Alicia di kelas

Imbasnya, Cc seperti menekankan pada dirinya sendiri untuk mendapat nilai sempurna, dan bila salah sedikit saja, dia seperti tidak terima dan berusaha untuk benar. Saya seolah dapat ‘membaca’ pikiran Cc bahwa dia ingin menjadi kebanggaan, dengan menunjukkan dan berusaha untuk menjadi hebat. Tidak sayangku Alicia, bagi mama, kamu sudah luar biasa, dan sangat istimewa. Tiap hari kami selalu meyakinkan dan memberi pengertian perlahan dengan bahasa yang mudah dipahami Cc bahwa tidak perlu nilai sempurna, bila salah pun tidak apa-apa, karena nanti Cc akan belajar dari kesalahan, untuk selanjutnya tidak akan mengulang kesalahan itu. Namun, rasanya usaha kami harus terus digiatkan agar Cc mengurangi ‘ambisi’ atau keinginannya untuk selalu mendapat nilai sempurna. Saya sebenarnya gimana ya, ingin tertawa atau apa lah susah menggambarkan perasaan saya. Di kala orang lain mungkin ingin anaknya mendapat nilai bagus terus, saya tuh justru terlalu santai, dan tidak ngoyo, bagi saya kalau anak saya bisa mengikuti pelajaran, itu sudah. Tak perlu nilai 10 atau sempurna, salah itu hal yang wajar sekali dan manusiawi. Jadi rasanya pe er kami ini justru malah memberi pengertian kepada Cc agar jangan mengejar nilai sempurna, namun justru dengan adanya kesalahan, Cc dapat belajar dari kesalahan itu. (rasanya kami perlu bilang juga kalau nilai 7 pun sudah sangat istimewa ke Cc :D).

mau jadi pembalap juga boleh :p

mau jadi pembalap juga boleh :p

Saya sangat paham dan tau betul bahwa memang Cc mempunyai kelebihan dalam hal mencerna pelajaran, karena menurut psikolog nya Cc mempunyai photographic memory, apapun yang dia lihat dan baca, dalam sekali pun, dia akan bisa mengingat dan menuliskannya kembali. Bahkan kalau Cc belajar untuk ulangan misalnya, sepulang sekolah, sebelum saya ke kantor, saya selalu membuat soal untuk dia, begitu Cc selesai mengerjakan, saya pun memberi pertanyaan lisan untuk dia jawab. Abis itu sudah, saya ke kantor, dan Cc tidak belajar lagi. Malam setelah saya kembali ke rumah, terkadang Cc sudah tidur, jadi tidak belajar lagi. Paginya, sembari mandi dan bersiap ke sekolah, saya hanya merefresh apa yang dipelajari kemarin. Sudah itu saja. Dan Puji Tuhan Cc masih mengingat apa yang dia pelajari. Anak seperti Cc tidak akan bisa bertahan untuk belajar full diam di meja, karena dia tidak akan betah. Jadi saya pun menyesuaikan dengan kondisi Cc. Mungkin akan beda cara mendidik dengan adiknya Bee, yang normal.

Berbeda dengan Bee, yang hanya menggunakan gadget untuk bermain, Cc menggunakan gadget untuk browsing hal-hal yang ingin dia ketahui. Seperti membuka wikipedia untuk mengetahui ibukota negara-negara di dunia. Jadi Cc sangat lancar tatkala ditanya ibukota negara Australia atau bahkan Amerika. Jangan salah, Cc pun kerap menggunakan google translate untuk menerjemahkan dari bahasa indonesia atau inggris ke bahasa rusia misalkan, dan mendengarkan lafal yang diucapkan dari situ. Padahal, kami tidak pernah mengajarinya untuk seperti itu tapi Cc bisa melakukannya sendiri. Kagum saya sama anak satu itu.

Kini kami hanya ingin agar Cc bisa belajar menerima ‘kekalahan’ atau ‘kesalahan’ yang dia lakukan entah dalam hal lomba atau pelajaran agar dia tidak merasa harus menjadi hebat atau mendapat nilai sempurna, karena tak ada satupun dari kami orang tuanya yang menuntut atau mengharuskan Cc untuk mendapat nilai sempurna. Anak atau orang normal saja sulit menerima kekalahan apalagi abk seperti Cc, namun kami akan terus memberinya pengertian. Kami tak muluk-muluk. Cita-cita kami sederhana, Cc bisa ‘normal’, bersosialisasi+berkomunikasi, dan mandiri dalam segala hal. Kalau nilai bagus bagi kami itu ‘bonus’ luar biasa dari Tuhan melalui Cc.

Benar-benar banyak hal yang bisa kami pelajari dari Cc dan mengambil hikmahnya. Rasanya kami harus lebih banyak bersyukur kepada Nya yang telah memberi anak spesial seperti Cc. Terima kasih Tuhan-Deo Gratias.

my Angel

my Angel

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s