A JOURNEY TO NABIRE, PAPUA

Welcome to Nabire

Welcome to Nabire

Akhirnya saya berkesempatan menginjakkan kaki di Papua!! Harap dimaklumi, ini pengalaman pertama saya ke Papua, tepatnya di Nabire. Excited? Pastinya. Apalagi selama ini saya hanya bisa ‘iri’ mendengar cerita teman-teman lain yang sudah berkesempatan ke Papua. Minggu, 20 Oktober 2013 lalu, tim She Can, tayangan soal wanita inspiratif yang juga saya gawangi, berangkat ke Nabire, Papua untuk meliput Mama Robeka Rumainum, wanita yang sangat memberi inspirasi. Lebih lanjut soal Mama Robeka, pantengin terus Trans 7 setiap Hari Sabtu pukul 08.30 wib (promosi program saya boleh dong hahaha, tapi beneran deh, wanita-wanita She Can ini sangat inspiratif, dan saya sendiri banyak belajar dari mereka).

Saya berangkat bersama tim liputan Peppy Qohar sebagai reporter handal dan Faizal Akbar, sang kameramen handal, duo ‘besar’ ini yang kerap meliput berbagai tayangan di She Can, selain tim lainnya yaitu Stella Florensia dan Saefudin alias Aep :D. Mengapa saya sebut ‘besar’? Lihat saja mereka hahaha, di tengah mereka saya seolah angka 1 yang diapit 2 angka 0 besar….piss aaah.

00 1 00 hahaha

00 1 00 hahaha

Kami menuju Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 23.00 dan pesawat menuju Ambon untuk transit take off sekitar pukul 01.30 dini hari. Perjalanan dari Jakarta ke Ambon memakan waktu 3 jam, dan tidak sepenuhnya bisa tidur, paling hanya 2 jam an, itu juga masih terbangun sesekali. Sampai di Bandara Pattimura Ambon sekitar pukul 06.30 wib atau 08.30 wit. Disini kami menunggu pesawat yang lebih kecil untuk menerbangkan kami ke Nabire. Beberapa kali panggilan penumpang tujuan berbeda sudah diumumkan, kami sempat bingung, kok tidak ada panggilan ke Nabire. Akhirnya Faizal bertanya kepada petugas bandara, ternyata pesawatnya sudah ada, dan menunggu. Oalaah lha kok dari tadi gak ada panggilan…untung gak ditinggal hihihi.

sunrise from above

sunrise from above

IMG_3797

i love clouuuud

Meski pesawat lebih kecil, namun jarak antara kursi cukup luas, jadi bisa lebih nyaman tidurnya. Lucunya setelah kursi penumpang terisi penuh, mesin pesawat pun dinyalakan dan siap terbang, lha kok kayak naik angkot aja, begitu penuh langsung jalan tanpa ada pengumuman hahaha. Dari Ambon ke Nabire sekitar 2 jam perjalanan. Sampai Bandar Udara Nabire, saya tidak menyangka kalau bandaranya sangat kecil, di pikiran saya kecil sih, tapi ternyata ini lebih kecil dari bayangan saya, dan bandaranya agak kurang terawat, sedikit kotor dimana-mana. Saya saja sampai tidak mau ke kamar kecil karena melihat situasi seperti itu. Oh ya, satu lagi, tidak ada troly, apalagi porter, jadi peralatan segede gaban yang jumlahnya gak sedikit itu kami bawa sendiri. Lumayan olahraga hahaha. Lucunya di kaca bandara terdapat tulisan dilarang makan pinang…awalnya kami bingung, kenapa ya? Hubungannya apa ya? Temukan jawabannya di bawah hahaha…

beware

beware

Kami dijemput driver dan mobil yang sudah kami pesan sebelumnya untuk mengantar kami kemana pun liputan kami berada. Sang driver yang asli Papua, dari suku Serui ini bernama Siyors, nama lengkapnya panjang, susah ingatnya hahaha… yang lucu dari Siyors ini, dia gak kelihatan garang atau seram seperti orang Papua yang besar-besar badannya, malah kalau doi ngomong suaranya pelan, sampai kami kerap meledeknya : “Kau orang Jawa atau Papua sih?” dan Siyors biasanya cuma tersenyum.

Siyors sang driver

Siyors sang driver

Awalnya memang dia malu-malu dan segan, tapi setelah seminggu bersama kami sih dia juga bisa gokil hahaha. Oh iya, mobil sewaan kami itu kijang innova dengan ban yang besar dan ditinggikan, karena ternyata disana rata-rata mobil memang seperti itu untuk memudahkan perjalanan ke pedalaman dengan jalanan yang masih kurang bagus.

Berhubung perut minta diisi alias lapar, karena dari semalam perjalanan (kami tiba pukul 07.00 wib atau 09.00 wit) kamipun mencari tempat makan. Kami berhenti di sebuah warung atas ide Siyors (iyalah, secara kami gak tau mau makan dimana kalee…) disitu tersedia mie ayam, baso, nasi ayam, lumayanlah mengisi perut. Nah, ternyata yang jualan itu orang Sumedang, ealaah jauh-jauh ke Papua ketemu orang dari pulau Jawa lagi deh. Jadilah kami ngobrol dengan bahasa sunda… Kata Siyors, disini memang banyak rumah makan atau warung makan jawa, baik itu jateng, jatim atau jabar justru makanan khas Papua malah susah.

Hotel Rio, Nabire

Hotel Rio, Nabire

Setelah perut kenyang akibat makan kayak orang gak makan seminggu, kami bergerak menuju hotel. Saya sudah minta ke Siyors untuk mencarikan hotel yang paling bagus di Nabire, dibawalah kami ke Hotel Rio yang katanya baru setahun atau dua tahun ini berdiri. Sekilas hotel ini nampak seperti rumah biasa yang bertingkat, dan kecil. Wuiiih hotel paling bagus aja kayak gini, gimana yang paling…..? hehehe. Namun hotel ini sangat bersih dan nyaman. Kamar yang paling bagus hanya ada 1, cukup besar, dengan sofa dan meja, kamar mandi dalam plus air panas. Karena saya perempuan sendiri akhirnya saya mengalah dengan Peppy dan Faizal yang mendapatkan kamar besar itu. Bayangkan bila mereka yang mendapat kamar saya, yang kecil banget, bahkan kamar mandinya sempit daaaaan…..tidak ada air panas. Aduh, saya bukannya manja, tapi dari kecil kebiasaan mandi air hangat memang susah dihilangkan. Beruntung ada kamar mandi luar yang ada air panasnya, jadi saya tiap pagi mengisi ember dengan air panas untuk saya bawa ke kamar mandi dalam kamar, hahaha…teteup. Tv di kamar sudah flat dan tv kabel, lumayan (padahal hotel cuma numpang tidur doang secara dari pagi hingga malam liputan hihihi).

Selesai beres-beres barang bawaan, kami pun langsung menuju tempat nara sumber kami, dan langsung liputan. Keren kan, dari malam sampai pagi perjalanan teteup dedikasi dooong. Kota Nabire adalah kota kabupaten, dan ya kecil gitu lah, mungkin seperti Magelang, tapi tidak serame Magelang. Jalanan tak ada kemacetan di kota, apalagi jalanan menuju Desa Samabusa tempat narsum kami berada, seolah di jalan tol ideal, yang nyaris tak ada kendaraan lalu lalang. Letak Desa Samabusa lumayan jauh, namun kami hanya menempuh sekitar setengah jam saja. Pemandangan hutan dan rumah-rumah penduduk dengan jarak dari satu rumah ke rumah lain cukup jauh menghiasi perjalanan kami. Yang paling saya suka adalah langit dan awan Papua, indaaah sekali, seolah awan sangat dekat dengan jalanan. Memang, saya sangat suka dengan langit, awan dan laut. Pas bukan?

Ket : Atas : jalanan yang sepi Bawah : kaca spion yg banyak konon modif gaulnya disana

Ket :
Atas : jalanan yang sepi
Bawah : kaca spion yg banyak konon modif gaulnya disana

Ket : Atas : tugu roket Bawah : patung di dekat bandara

Ket :
Atas : tugu roket
Bawah : patung di dekat bandara

Ket : Atas : awan yang indaah Bawah : plat nomornya singkatan nama saya lhoo (Dini Savitri hihihi)

Ket :
Atas : awan yang indaah
Bawah : plat nomornya singkatan nama saya lhoo (Dini Savitri hihihi)

Untuk menuju Desa Samabusa, kami melewati pelabuhan setempat, terlihat banyak peti-peti kemas yang menumpuk disana, tapi jangan bayangkan seperti Pelabuhan Tanjung Priok yang besar yaa.

Pelabuhan Samabusa

Pelabuhan Samabusa

Akhirnya kami tiba di rumah Mama Robeka Rumainum sang nara sumber kami, wanita inspiratif pilihan She Can, dimana beliau melestarikan Sera’e, makanan pokok Desa Samabusa, yang sudah ditinggalkan. Sosok sederhana namun bersahaja dan penuh tekad terpancar dari raut wajah Mama Robeka.

Ket :  Atas : saya bersama Mama Robeka Bawah : membuat kerajinan dari kulit kayu

Ket :
Atas : saya bersama Mama Robeka
Bawah : membuat kerajinan dari kulit kayu

Keramahan beliau menyambut kami seolah sudah mengenal kami saja. Kami pun ngobrol dan membicarakan rencana liputan kami kepada beliau di pekarangan rumah yang asri dan adem karena banyak pepohonan. Disitu kami juga berbincang dengan anggota-anggota kelompok yang dibentuk Mama Robeka. Mereka hangat dan sangat ramah meski awalnya agak kaku, karena kan baru kenal. Mama Robeka sangat kooperatif, beliau tidak keberatan diatur untuk syuting dan jadwal syuting yang kami buat, bahkan beliau berujar, “kalian sudah jauh-jauh datang dari Jakarta, dan belum tentu sering kemari, kenapa tidak? Mari atur saja.” Dan saat itu juga kami mulai syuting, kerajinan dari kulit kayu yang mereka buat untuk dijual. Tangan-tangan Mama Robeka dan kelompoknya sangat terampil menganyam kulit kayu menjadi berbagai kerajinan seperti vas bunga, piring, tas, dan berbagai hiasan lainnya.

Nyamuknya ngeriii

Nyamuknya ngeriii

Berhubung banyak kebun dan pepohonan pasti banyak nyamuk, dan yang kami dengar kasus malaria di Nabire lumayan besar di Papua, waduh jadi saudara-saudara, tiap saat kami semprat semprot tubuh dengan semprotan anti nyamuk. Berhubung Desa Samabusa terletak di pinggir pantai, jadilah saya harus merelakan tubuh menjadi makin hitam karena tidak bisa menggunakan spf 50 yang saya bawa, dan memilih lotion anti nyamuk, daripada kena malaria, hayoo, mending malarindu lebih asyik hahaha… Sebagai pencegahan lainnya kami pun minum obat Resochin anti malaria, daripada..daripada, ya kan?

Ngobrol dan syuting dengan Mama Robeka & kelompoknya sangat mengasyikkan, tidak kaku, dan penuh tawa canda. Peppy dan Faizal kan kocak banget tuh, nah mereka pun ternyata tak kalah kocak, jadilah hari yang seharusnya melelahkan tak terasa karena kehangatan dan keakraban kami. Oh iya ada kebiasaan mereka yaitu mengunyah pinang, seperti di jawa itu menyirih. Nah, saya tidak terbiasa dengan (maaf) kebiasaan mereka yang membuang ludah sembarangan saat mengunyah pinang itu…. Daaan, terjawab kan mengapa di bandara ada tulisan dilarang makan pinang…apa jadinya bandara kalau mereka diperbolehkan makan pinang disana hahaha.

KET : Faizal mencoba menginang hahaha

KET :
Faizal mencoba menginang hahaha

Syuting pun kami lanjutkan di tepi pantai, yang ternyata….sangat indah, seolah awan dan pantai jaraknya sangat dekat. Luar biasa. Saat kami syuting, Faizal sempat berujar, “mba, bayangin, kita ini ada di suatu tempat yang jauuuuuuh banget dari rumah.” Kayaknya Faizal rindu istrinya hihihi, maklum sang istri tengah hamil 3-4 bulan. Pemandangan yang indah membuat saya sangat bersyukur dapat menikmatinya. Hilang sudah rasa lelah perjalanan jauh saya melihat kedahsyatan alam Nabire, khususnya Desa Samabusa.

KET : 1. Faizal siap syuting 2. Mama Robeka in action

KET :
1. Faizal siap syuting
2. Mama Robeka in action

KET :  1. Tonton terus wanita inspiratif SHE CAN 2. Bocah Papua

KET :
1. Tonton terus wanita inspiratif SHE CAN
2. Bocah Papua

Asyik bermain

Asyik bermain

Berhubung hari sudah sore, kami pun pamit, untuk beristirahat dan melanjutkan syuting esok hari. Sebelum ke hotel, kami mencari makan malam, dan kami dibawa ke warung makan seafood, ternyata harga-harga makanan di Nabire ini mahal-mahal boo, bayangkan, nasi ayam aja sekitar 25-30 ribu. Biaya hidup disini ternyata tinggi. Lihat aja daftar menu yang saya foto ini :D. Berlipat-lipat kali dari harga makanan di Jakarta ckckckck.

Daftar harga yang ckckck

Daftar harga yang ckckck

Sampai hotel, kami dikejutkan suara orang berteriak dan berbicara keras, sang pemilik hotel menghampiri kami dan bilang agar kami gak perlu kuatir, karena memang seperti itu. Ternyata ada orang papua yang tengah mabuk, sehingga berbicara keras. Untung tidak mengganggu kami. Ya sudahlah, kami pun beristirahat karena esok liputan menunggu kami. Satu hal, sinyal disini sangat sangat buruk, hanya telk**sel saja yang ada, itu juga cuma edge, hanya bisa sms, telepon, atau bbm yang sangaaat delay. Mau internetan susah, sedih kan? Apa jadinya saya tanpa internet *lebay hahaha. Namun ada solusi nya yaitu hotel menyediakan wifi dengan membeli voucher. Mahal sih, tapi ya sutra lah. Voucher 25 ribu untuk 3 jam internet, 50 ribu bisa 8 jam.

Sarapan duluu

Sarapan duluu

Keesokan harinya, kami pun berangkat pagi untuk kembali syuting. Fyi, hotel disini tidak menyediakan sarapan pagi, hanya diberi snack dan teh saat pagi dan sore. Jadi sebelum menuju Desa Samabusa, kami mencari sarapan. Kali ini kami makan nasi kuning, dengan lauk dan sayur yang bisa dipilih. Saya memilih ayam rica, plus sayur daun singkong, lumayan enak, ayam ricanya pedas, sayurnya pas.

Hari kedua ini kami syuting kegiatan Mama Beka di posyandu, disini kami bertemu anak perempuan kecil yang lucu dan manis, namanya Betty. Betty benar-benar menyita perhatian kami. Awalnya dia malu-malu saat hendak difoto, namun begitu melihat hasilnya, akhirnya Betty pun bisa bergaya. Postingan foto Betty di facebook saya pun mengundang banyak komen yang kesemuanya menyukai raut ceria bocah kecil Papua ini.

KET : 1. Kiri : si cantik Betty 2. Atas : saya dan anak-anak Samabusa 3. Bawah : suasana di posyandu

KET :
1. Kiri : si cantik Betty
2. Atas : saya dan anak-anak Samabusa
3. Bawah : suasana di posyandu

Syuting kegiatan Mama Robeka berlanjut, mulai dari keterlibatannya di posyandu, hingga mencari kulit kayu untuk dijadikan bahan kerajinan. Berhubung kayu tumbuh di pinggir pantai Samabusa, saya pun berkesempatan menikmati pemandangan indah yang disuguhkan alam Samabusa. Langit yang biru, dengan awan putih menggumpal, plus laut lepas, benar-benar memukau saya…. rasanya pingin teriak melepaskan segala yang ada (kayak di pilem-pilem gitu hahahaha). Tapi malu ah sama mama-mama disini wkwkwk.

KET :  1. Rumah Mama Robeka 2. Suasana di sekitar tempat Mama Robeka

KET :
1. Rumah Mama Robeka
2. Suasana di sekitar tempat Mama Robeka

KET : Pakai bulu-bulu khas Samabusa (eh tapi gak keliatan yak :D)

Pakai bulu-bulu khas Samabusa (eh tapi gak keliatan yak)

KET : 1. Kebersamaan di tepi pantai Samabusa 2. Faizal beraksi

KET :
1. Kebersamaan di tepi pantai Samabusa
2. Faizal beraksi

Enjoying the beach

Enjoying the beach

unbelievable sight, indescribable feeling

unbelievable sight, indescribable feeling

IMG_4114

Siyors dan Peppy

Teamwork dooong :P

Teamwork dooong 😛

Bocah kriwil sukaaaaak

Bocah kriwil sukaaaaak

The beach is sooooo beautiful

The beach is sooooo beautiful

Sore usai syuting kamipun beranjak pamit dan kembali ke hotel. Seperti biasanya sebelum sampai hotel, makan malam dulu lah, toh memang sudah waktunya. Usai makan, kami sempatkan mampir dan berfoto ria di Pantai Nabire. Nah ini dia kebiasaan buruk yang saya sayangkan…tulisan Pantai Nabire sudah penuh corat coret tangan-tangan jahil tak bertanggung jawab, padahal baru setahun dipasang disitu. Menyebalkan.

Pantai Nabire, sayangnya gak seindah Pantai Samabusa

Pantai Nabire, sayangnya gak seindah Pantai Samabusa

Kami beruntung, selama di Nabire, cuaca sangat mendukung kegiatan syuting ini. Hujan turun pun pada malam hari atau bahkan subuh, dan disertai dengan mati lampu. Bayangkan, jam 3 dini hari mati lampu, untung saya bukan penakut-penakut banget, jadi ya, cuek, trus tidur lagi hahaha. Kebiasaan setiap pagi sebelum berangkat dan malam seusai syuting biasanya update status karena bisa pakai wifi hotel. Can’t live without it LOL….

Kaca molo

Kaca molo

Hari Ketiga… kami bersama Mama Robeka mencari tempat syuting yang lumayan jauh dari Desa Samabusa, agak ke atas, melewati hutan di kiri-kanan jalan, dan sampailah kami ke pantai dimana Mama Robeka syuting mencari ikan dengan kacamolo. Kacamolo ini semacam kaca mata renang buatan sendiri dengan kayu dan kaca asli…wow… Saat mempersiapkan peralatan syuting, kami dikejutkan dengan kedatangan orang Papua yang membawa panah dan busur, deg-deg an lah, soalnya tadi kami lihat dia melintas dengan ojek, namun tiba-tiba berbalik arah dan menghampiri kami. Intinya minta uang buat ojek 20 ribu… Pfiuuuh..untung cuma 20 ribu, kalau mereka banyakan mungkin minta lebih hiiiii….. Yang lucu (ini baru saya ketahui satu hari setelah kejadian ini) Faizal memberi 20 ribu berupa pecahan 10 ribu, namun salah satunya sudah tersobek setengah saja…hahahaaaa. Untunglah orang itu tidak mengecek, coba kalau dia ngecek dan marah, wuiiih bisa-bisa kami dipanaaah,hiiii lagi.

Jalanan ke atas dari Desa Samabusa, di kiri kanan hutan

Jalanan ke atas dari Desa Samabusa, di kiri kanan hutan

KET : 1. Kiri : Peppy dan cucu Mama Robeka 2. Suasana pantai tak dikenal (karena gak tau namanya)

KET :
1. Kiri : Peppy dan cucu Mama Robeka
2. Suasana pantai tak dikenal (karena gak tau namanya)

KET : 1. Suasana di pinggir pantai  ini lucu ya, ada batu kotak-kotak gini 2. Mama Robeka mencari ikan

KET :
1. Suasana di pinggir pantai ini lucu ya, ada batu kotak-kotak gini
2. Mama Robeka mencari ikan

Menunggu di tepi pantai

Menunggu di tepi pantai

Adegan setelah mencari ikan, dilanjutkan dengan bakar ikan bersama warga, eh ada yang kurang, tak afdol rasanya bila makan ikan bakar tanpa pisang bakar…mmmmm…yummy. Ikan yang sudah dibersihkan dibakar begitu saja tanpa bumbu, namun tetap enak rasanya… 😀

KET : 1. Atas : bersama Peppy menunggu ikan bakar 2. Bawah : ikan bakar dimakan bersama pisang bakar…yummy

KET :
1. Atas : bersama Peppy menunggu ikan bakar
2. Bawah : ikan bakar dimakan bersama pisang bakar…yummy

Nyiur melambai

Nyiur melambai

just me

just me

Mother and children @Samabusa Beach

Mother and children @Samabusa Beach

i'm dancing in the air, yaaayyyy

i’m dancing in the air, yaaayyyy

this is amazing…perfect view

this is amazing…perfect view

Hari Keempat, masih lanjut syuting di kebun Mama Robeka, dimana Sera’e ditanam. Sera’e itu sendiri semacam umbi-umbian dengan daun yang menjalar, dan dimakan dengan cara direbus seperti merebus singkong. Rasanya hambar, dan lembek, tidak seperti singkong yang keras dan masih ada rasanya. Sera’e biasa dinikmati dengan ikan goreng….yuk makan yuuuk…

Perjalanan menuju kebun Mama Robeka diwarnai dengan awan yang indah

Perjalanan menuju kebun Mama Robeka diwarnai dengan awan yang indah

Bersama para mama yang kerap kali minta foto bareng

Bersama para mama yang kerap kali minta foto bareng

saya mejeng dulu yaa

saya mejeng dulu yaa

merebus Sera'e

merebus Sera’e

inilah Sera'e setelah direbus

inilah Sera’e setelah direbus

menikmati Sera'e dengan ikan goreng

menikmati Sera’e dengan ikan goreng

Setelah Sera’e beres, kami pun menyiapkan setting wawancara di tepi pantai dengan menggunakan dua kamera, saya membantu di salah satu kamera, Peppy bertugas mewawancarai, dan Faizal di kamera lainnya. Mama Robeka yang polos pun perlu bantuan untuk sedikit diberi make up agar hasilnya di kamera lebih kinclong, siapa lagi yang memolesnya selain saya hahaha.

wawancara Mama Robeka

wawancara Mama Robeka

settingan wawancara dengan alam yang indah

settingan wawancara dengan alam yang indah

pinjem properti syuting dulu aaah

pinjem properti syuting dulu aaah

menunggu sunset

menunggu sunset

keisengan Peppy hahaha

keisengan Peppy hahaha

Hari Kelima kami masih melengkapi adegan-adegan yang diperlukan bagi kebutuhan gambar, plus menuju hutan dimana di tengahnya ada kebun yang ditanam warga. Sayangnya banyak penebangan liar di hutan, suara gergaji mesin menjadi soundtrack kami selama syuting. Di kebun ini saya bertemu anak-anak Papua yang asyik bermain, bahkan satu diantaranya telanjang bulat, aduuh untung masih anak-anak :p. Awalnya mereka kaku sekali dengan kami yang dianggap asing (memang asing sih bagi mereka) tapi lama-kelamaan mereka pun bisa sangat ekspresif saat berfoto bersama :D.

perjalanan menuju kebun di tengah hutan

perjalanan menuju kebun di tengah hutan

i was here

i was here

capek, ngaso dulu euy

capek, ngaso dulu euy

malu akyuuu jadinya

malu akyuuu jadinya

Hari Keenam, bersama para talent dari kota Nabire untuk reka adegan Mama Robeka muda, kami pun menyelesaikan syuting hari terakhir kami. Ada pertemuan, namun ada juga perpisahan. Ini yang paling menyebalkan. Mama-mama disini yang sudah seminggu bersama seolah berat berpisah dengan kami. Mereka sampai berkaca-kaca dan menahan tangis, bahkan tak bisa berkata-kata lagi saat kami berpamitan. Terima kasih Mama Robeka dan semuanya, kehangatan dan kebersamaan ini sungguh tak akan terlupakan.

tim bersama salah satu mama

tim bersama salah satu mama

keisengan di sela syuting

keisengan di sela syuting

Tim bersama Mama Robeka and friends

Tim bersama Mama Robeka and friends

Yang lucu, para talent ini request untuk foto bersama kami di Pantai Nabire hahaha, berasa artis. Eh, jadi inget, selama syuting sama Mama Robeka, saya kerap diminta berfoto bersama mereka, baik mama-mama, maupun anak-anak mereka…makin berasa artis wkwkwk (jangan protes ya yang bacaaaa :p).

para talent untuk reka adegan

para talent untuk reka adegan

bareng para talent di Pantai Nabire

bareng para talent di Pantai Nabire

Hari Ketujuh kami….pulaaaaaaaaaang….kangen banget sama Cc & Bee. Selama di Papua, Bee kalau ditelepon selalu menanyakan kapan saya pulang, dan biasanya abis itu saya menangis menahan rindu hehehe.

bersiap pulaaang

bersiap pulaaang

suasana check in di bandara

suasana check in di bandara

saat menunggu pesawat tiba, saya melihat sesuatu yang unik, bayangkan, mosok motor parkir di dekat pesawat *tepok jidat

saat menunggu pesawat tiba, saya melihat sesuatu yang unik, bayangkan, mosok motor parkir di dekat pesawat *tepok jidat

Papua dari atas

Papua dari atas

transit di Ambon

transit di Ambon

can't live without them :P

can’t live without them 😛

Terima kasih Desa Samabusa, terima kasih Nabire, terima kasih Papua…someday I’ll be back….

Ps : semua foto saya yang memotret, kecuali kalau saya ada di dalamnya eh tapi ada yang saya potret sendiri juga lho, maklum narsis 😀

Advertisements

4 thoughts on “A JOURNEY TO NABIRE, PAPUA

  1. Hotel Rio bkn yg plg bagus, hotel mahavira bole lah, kl kala itu. Tempat makan yang enak itu berseberangan dgn seafood panorama,, nia zulkarnain dan suami prnh mkn disitu, lupa namanya. Ha ha ha…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s