SURGA KECIL DI DESA TABLASUPA TELUK TANAH MERAH : A JOURNEY TO PAPUA (AGAIN)

Ketika saya menulis perjalanan saya ke Nabire, saya tidak akan pernah menyangka saya akan kembali ke Tanah Papua lagi. Tuhan sungguh luar biasa! Belum ada sebulan sejak perjalanan saya ke Papua, tepatnya di Desa Samabusa, Nabire, 21 Oktober 2013 lalu, tiba-tiba saya kembali ditugaskan ke Papua tanggal 11 November hingga 18 November 2013. Tak hanya menjawab doa saya kala pertama saya menginjakkan kaki ke bumi cendrawasih ini, Dia bahkan memberi bonus, ya saya kembali diijinkan menapak tanah Papua untuk kedua kalinya, bahkan dalam jangka waktu 3 minggu setelah pertama kali saya kesana. Deo Gratias, Terima Kasih Tuhan! Masih ada satu keinginan saya kalau dikabulkan, yaitu ke Papua lagi, namun ke Raja Ampat ya Tuhan, hihihi. Amin. Abis itu sudah cukup lah Tuhan 😀 (dasar manusia, selalu saja tidak pernah puas :p).

Kali ini saya akan meliput Mama Mince Wally, seorang pelestari lingkungan hidup khususnya terumbu karang di Desa Tablasupa distrik Depapre, sebuah perkampungan terapung di Teluk Tanah Merah. Bersama tim She Can, Stella, Aep dan Faizal, kami berangkat sekitar pukul 23.55 dengan penerbangan langsung ke Jayapura. Excited, pasti, dan dengan tim yang lebih banyak rasanya perjalanan ini akan lebih ramai dan seru hahaha. Aep apalagi, dia memang suka sekali saya foto, karena dulu waktu saya trip bareng, dia selalu senang akan hasil potret saya ahaha. Hei, foto itu adalah kenangan yang tak akan terlupakan bukan? Jadi narsis itu wajar lho (pembenaran hahaha).

saya, Aep, dan Stella saat check in di Terminal 3 Soetta

saya, Aep, dan Stella saat check in di Terminal 3 Soetta

Penerbangan kami memakan waktu 5 jam 20 menit. Walaupun perut kenyang karena makan terus, tapi tidur di pesawat tetap tak nyenyak, karena pegel :D. Sekitar pukul 05.30 wib atau 07.30 wit, sampailah kami di Bandara Internasional Sentani Jayapura. Waaah, jangan dibandingkan lah dengan Bandar Udara Nabire, bandara ini jelas lebih besar dan bagus. Tapi teteup ada lho tulisan “Dilarang Makan Pinang” hahaha, itu sudah! Kami dijemput Om Leo, driver yang juga baru saja menemani teman-teman Jejak Petualang ke Wamena. Om Leo yang kocak membuat kami langsung akrab dengan beliau. Seperti biasa, kami mencari sarapan, padahal baru 2 jam lalu kami makan di pesawat, ini perut atau karung sih?! Daaaan…warung lamongan jadi pilihannya, karena hanya itu warung yang buka pagi-pagi. Saat melihat harga makanan, saya kaget karena disini lebih murah daripada Nabire :p.

Pemandangan dari atas, saya benar-benar cinta sama langit dan awan

Pemandangan dari atas, saya benar-benar cinta sama langit dan awan

Sarapan pagi di pesawat

Sarapan pagi di pesawat

Sunrise from above

Sunrise from above

Tanah Papua dari atas

Tanah Papua dari atas

Bandara Internasional Sentani Jayapura

Bandara Internasional Sentani Jayapura

KET : Kiri : tulisan dilarang makan pinang sepertinya selalu ada di bandara di Papua seperti Nabire Kanan : di toilet tara da kunci jadi dipasang tulisan :D

KET :
Kiri : tulisan dilarang makan pinang sepertinya selalu ada di bandara di Papua seperti Nabire
Kanan : di toilet tara da kunci jadi dipasang tulisan 😀

ckckck di toilet aja narsis

ckckck di toilet aja narsis

Daftar harga makanan yang sedikit "lebih" murah dibanding Nabire

Daftar harga makanan yang sedikit “lebih” murah dibanding Nabire

Baca koran lokal aah

Baca koran lokal aah

Setelah kenyang mengisi perut, kami belanja logistik, dan menuju Tablasupa. Kami mendapat kabar sebelumnya kalau di Desa Tablasupa tidak ada hotel atau penginapan, jadi kemungkinan besar kami akan stay di rumah penduduk. Hal yang sebenarnya saya agak kurang nyaman, tapi demi liputan, mengapa tidak?

Pemandangan perjalanan menuju Depapre

Pemandangan perjalanan menuju Depapre

Jalan yang kami lalui penuh dengan pemandangan indah, baik hutan maupun laut, meski terkadang beberapa ruas jalan tidak semulus jalan tol, kadang belum diaspal atau jalan rusak. Om Leo sempat mengusulkan untuk menginap di Tablanusu yang tak jauh letaknya dari Tablasupa. Kamipun sempat menengok penginapan yang ternyata resort sederhana di pinggir pantai yang indah. Waaah kami benar-benar tertarik. Meski sederhana namun harga yang dipatok lumayan, yang standar 500 ribu rupiah, sementara yang bungalow sekitar 650 ribu rupiah, dan ada hotel juga dengan harga 600 ribu rupiah per kamar. Boleh juga pikir saya saat itu. Tapi kami sepakat untuk melihat situasi dan kondisi apabila memang memungkinkan kami untuk menginap di Tablanusu.

Pemandangan di Tablanusu

Pemandangan di Tablanusu

Anak-anak Tablanusu

Anak-anak Tablanusu

Tim di sebuah danau kecil di Tablanusu

Tim di sebuah danau kecil di Tablanusu

Setelah itu kami menuju dermaga, untuk menyeberang ke Desa Tablasupa. Di dermaga yang juga pasar kecil itu kami bertemu penghubung kami Ibu Elisabeth biasa dipanggil Usi untuk menghantarkan kami ke Mama Mince. Kami pun langsung memindahkan barang-barang yang seabrek-abrek ke dalam speed boat untuk menuju Tablasupa. Saya sangat menikmati perjalanan yang hanya sekitar 15 menit itu, riak-riak air dan pemandangan yang dikelilingi perbukitan kecil membuat mata dimanjakan.

KET : Atas : Stella dan Usi Bawah : saya dan Aep menikmati suasana

KET :
Atas : Stella dan Usi
Bawah : saya dan Aep menikmati suasana

Pemandangan yang kami lalui dalam penyeberangan ke Tablasupa

Pemandangan yang kami lalui dalam penyeberangan ke Tablasupa

Tak lama kemudian kami tiba di dermaga Desa Tablasupa sekaligus “gerbang” masuk ke desa yang berupa perkampungan atau rumah terapung. Sambil menurunkan barang-barang, pandangan saya tertuju pada sebuah tugu peringatan yang ada disana. Tugu itu merupakan tugu peringatan seabad masuknya injil ke Desa Tablasupa yang semuanya beragama Kristen. Di Tugu itu ada tulisan A Sena Waldi yang berarti kabar baik. Daaan yang lucunya di tugu dan dermaga inilah salah satu spot dimana kami bisa mendapat sinyal. Fyi, tara da sinyal di Desa Tablasupa kecuali di tugu dan dermaga atau di jembatan menuju makam (cerita soal jembatan ini ada di bawah tulisan saya nanti yaaa). Jangan salah, meski ada sinyal, tapi sangaaaaat susah sekali untuk kontak-kontak, wong sinyalnya Edge dan naik turun pula, bahkan seringkali hilang sama sekali, dan delaaaaaay.

Desa Tablasupa, desa terapung

Desa Tablasupa, desa terapung

Suasana dermaga Tablasupa

Suasana dermaga Tablasupa

Tugu peringatan seabad masuknya injil di Tablasupa

Tugu peringatan seabad masuknya injil di Tablasupa

Kami ditawari untuk menginap di rumah salah satu warga, demi kepraktisan daripada bolak-balik bawa barang naik boat, memang pilihan terakhir ya itu, menginap di rumah warga. Jujur, saya memang gak merasa nyaman. Tapi apa boleh buat, demi tugas dan liputan lancar, hajar bleh… Kami dibawa ke rumah keluarga Bapak Mesakh Kawaitouw dan Ibu Inez, keluarga nelayan dan guru. Mereka menyambut baik, bahkan sudah menyediakan kamar bagi kami untuk bermalam. Rasanya aneh, karena ini kali pertama saya tinggal di rumah terapung, rumah panggung dimana di bawahnya langsung laut Teluk Tanah Merah. Rumah terapung dibuat dari kayu, jadi kami bisa mengintip air laut di bawah kayu tempat kami berpijak. Kadang jadi ngeri sendiri gimana kalau ada barang yang jatuh hahaha. Jangan sampai deh. Amin. Disini jalan menuju rumah ke rumah semua dari kayu diatas laut, was was juga kalau tiba-tiba ambrol, ah plis jangaaan. Yang lebih mengagetkan lagi kamar mandinya. Kamar mandi disini tertutup seng, dengan pengait tali kabel bila menutup pintu namun aaah ini dia yang bikin deg-deg seeer, bila kita buang air kecil/besar, langsung jatuh ke lauuut…aduuuuh kebayang deh malunya kalau ada yang liat hahahaaaa….tapi kalau kepepet apa mau dikata laaah.

Inilah rumah tinggal kami selama disini

Inilah rumah tinggal kami selama disini

Kamar saya & Stella

Kamar saya & Stella

KET :  Atas : ruang tamu Bawah : ruang keluarga

KET :
Atas : ruang tamu
Bawah : ruang keluarga

Meski keluarga Bapak Mesakh menerima kami dengan tangan terbuka, namun mereka belum persiapan sama sekali. Jadilah Mama Inez memasak bahan makanan yang ada, sekaleng sarden dicampur oseng labu, untuk kami semua. Beruntung kami ada tic tac, cemilan yang akhirnya dicampur buat lauk nasi hahahaaa…ternyata enak juga…enak atau kepepet kan beda tipis yak :D.

tic tac pemberi rasa pada nasi kami :D

tic tac pemberi rasa pada nasi kami 😀

Oh iya, anak bungsu keluarga Mesakh itu sangat menggemaskan, pipi dan perawakannya yang montok, lucu dan menggemaskan, namanya Yehuda. Dia jadi favorit kami semua khususnya Stella dan Faizal. Kalo Faizal kan jelas menantikan kehadiran sang buah hati, sementara Stella? Hmmm….kayaknya itu keinginan terdalamnya hahaha, semoga segera mendapat jodoh dan akhirnya mempunyai keluarga yang bahagia juga ya Stel…amin.

KET : Atas : Faizal & Yehuda Bawah : Stella & Yehuda

KET :
Atas : Faizal & Yehuda
Bawah : Stella & Yehuda

Sambil menunggu kedatangan Mama Mince kami mulai mencicil syuting, teteup dedikasi tinggi doong

Sambil menunggu kedatangan Mama Mince kami mulai mencicil syuting, teteup dedikasi tinggi doong

Bindung laut hasil temuan anak-anak setempat

Bintang laut hasil temuan anak-anak setempat

Adaptasi dulu

Adaptasi dulu

di sekitar dermaga menanti sinyal

di sekitar dermaga menanti sinyal

Stella, saya dan Aep di dermaga

Stella, saya dan Aep di dermaga

Akhirnya kamipun bertemu Mama Mince dan menyempatkan langsung syuting beberapa adegan agar bisa mencicil kerjaan kami. Lanjut kami menuju bukit kecil yang ternyata adalah makam para warga, untuk mengambil gambar desa dari atas. Di jalanan menuju makam, beberapa kali babi melintas, jangan heran, disini ada beberapa yang memelihara babi seperti memelihara ayam. Nah, di jembatan, sebenarnya sih bukan jembatan karena semua jalanan disini memang jembatan penghubung antar rumah ke rumah, tapi kami menyebutnya jembatan karena posisinya sejengkal lebih tinggi dari jalanan biasa, disitu lah spot sinyal lagi hahaha (jadi tempat favorit kami untuk sekedar nge teh, merokok dan nongkrong, sambil menanti sinyal). Di atas bukit makam itu kami mengambil time lapse untuk melengkapi gambar liputan kami. Lucunya saat time lapse matahari terbenam kami menunggu sampai maghrib…bayangkan maghrib-maghrib di kuburan…krik-krik-krik… apa mau di kata kalau itu spot yang terbaik untuk mengambil gambar desa dari atas sekaligus matahari terbenam. Begitu kelar, agak buru-buru juga kami turun, maklum…agak ngeri lah.

Suasana Desa Tablasupa dari atas bukit makam

Suasana Desa Tablasupa dari atas bukit makam

sunset

sunset

suasana menjelang senja

suasana menjelang senja

Berbeda dengan Nabire, yang saya kerap merasa tidak aman, di desa ini saya, bahkan teman-teman merasa aman dan nyaman, karena kehangatan dan keramahan warganya khususnya sang empunya rumah. Jarang sekali saya melihat rumah disini pintunya ditutup, mungkin sama sekali tak ada, karena aman itu. Daaan, satu lagi…disini malah tidak ada nyamuk, padahal tabir surya sengaja tidak saya bawa, melihat pas di Nabire tidak terpakai, sibuk menyemprotkan anti nyamuk. Bagus lah, lega. Tapiiiii…bakalan makin hitam hahaha.

Sehabis makan malam, saya dan Aep kembali ke tempat favorit yaitu jembatan sinyal (saya juluki begitu saja lah :D) sambil kontak dengan keluarga dan orang tercinta, kami pun mengobrol diiring menatap laut lepas, kerlipan cahaya bintang dan bulan. Hanya sms dan kadang bbm atau wa saja yang bisa, itupun pending dan lama baru terkirim, tapi ya sudahlah, daripada sama sekali tidak bisa. Padahal biasanya sudah upload sana sini ke media sosial, tapi kali ini kami tidak eksis dulu lah hahaha. Sinyal oh sinyal. Yang kocak sekaligus menyebalkan, Aep bilang : “mba, kalau tiba-tiba ternyata jaring panjang ini (kebetulan ada jaring panjang yang dijemur) itu ular pyton besar gimana?” Sontak saya terhenyak, “Aep jangan macem-macem deh, ngeri amat bayanginnya!” Tapi abis itu saya melihat sekeliling yang gelap, karena tak ada penerangan jalan, hanya ada sinar bulan dan lampu dari rumah-rumah yang agak jauh dari situ, trus saya jadi ngeri sendiri. Aaah sialan Aep wkwkwk. Jangan salah, semasa kecil meski saya cinta laut, tapi kalau suasana laut di malam hari agak mengerikan bagi saya, karena saya punya bayangan tiba-tiba muncul naga keluar dari dalam laut dan menjulurkan kepalanya ke saya seperti legenda monster Loch Ness…dan Aep sukses membuat saya teringat bayangan mengerikan itu. Jadilah saya buru-buru balik ke rumah dan lupakan sinyal hahaha.

Sebelum tidur saya dan Stella berbincang-bincang di kamar, biasa lah perempuan pasti ngobrol, bukan gosip lhooo, cerita sana sini berbagi pengalaman, eh kami juga pernah malam-malam ke dermaga (sebelum tau kalau ada jembatan sinyal yang lebih dekat jaraknya dengan rumah) untuk mencari sinyal, dan disitu mulailah berbagi pengalaman sama Stella, apa lagi kalau bukan soal cowok wkwkw, Aep dan Faizal kerap melontarkan ejekan dan candaan kalau kebetulan (eh gak kebetulan tapi sengaja) menguping pembicaraan kami halaaaah.

Dini hari saya terbangun karena hujan lebat, bayangkan hujan lebat, dengan air laut dibawah kami, membuat saya sangat kedinginan, selimut hanya selembar kain tak kuat untuk menahan hawa dingin. Tapi ya dipaksa-paksain tidur, agar kuat liputan esok harinya. Sekitar pukul 6 pagi wit Hari Rabu, saya bangun untuk memasak air buat mandi (oh iya, hari pertama mandi sore saya pakai air dingin, dan kapok, karena dinginnya luar biasa). Berhubung kompor yang digunakan kompor minyak tanah, saya kebingungan, memang dulu saya juga mengalami memakai kompor jenis ini kala gas belum masuk, tapi kok ya ndilalah lupa. Kebetulan ada Faizal yang terbangun karena ke kamar mandi. Jadilah saya minta dia menyalakan kompor, ternyata butuh kayu atau lidi untuk menyalakan api di sumbu, sayangnya kami tidak menemukannya. Tiba-tiba Faizal nyeletuk, “mba, emang jam berapa ini kok mau mandi aja?” Saya pun menjawab, “lho kan udah jam 6 Zal.” “ah masak sih udah jam 6, masih gelap gini,” bantah Faizal. Saya teteup kekeuh kalau saya liat jam di bb jam 4 wib yang berarti jam 6 wit, langsung Faizal menengok ke jam dinding rumah, yang ternyata menunjukkan pukul 4 pagi wit. Alamaaak saya lupa kalau jam di bb saya sudah menyesuaikan dengan waktu Papua, hahahaaaaa oneng banget siiiih, jadinya saya tidur lagi.

anak hiu yang terpancing

anak hiu yang terpancing

Hari kedua alias Rabu, 13 November ini diawali dengan mandi air panas, tadi sudah masak air dong (ps : tapi nyalain kompornya dibantu Mama Inez :D). Aaah rasanya segar sekali…hihihi, bayangkan, air mandinya dingiiiin sekali apalagi semalam hujan deras jadi makin makin deeeh. Saya dan teman-teman dikejutkan dengan hiu kecil yang terpancing saat para nelayan mencari ikan, jadi inget film shark hehehe.

Setelah menyiapkan perlengkapan syuting, kami, saya dan Aep sarapan di jembatan sinyal yang meski sinyal naik turun dan ada atau tiada, namun paling gak kami bisa sedikit memberi kabar bagi keluarga. Tapi sebenarnya enak lho sarapan disini, sambil makan, bisa menikmati laut dan langit yang terhampar dalam lemparan pandangan mata, belum lagi udaranya yang sejuk (pagi-pagi belum terik).

Kebiasaan baru kami, mencari sinyal di jembatan sinyal

Kebiasaan baru kami, mencari sinyal di jembatan sinyal

Mie dalam cup menjadi favorit kami disini :D

Mie dalam cup menjadi favorit kami disini 😀

Usai sarapan dan sinyal kami pun menuju SD YPK Wibong, tempat dimana Mama Mince mengajar sekaligus menjadi kepala sekolahnya. Di samping sekolah terdapat Gereja Kristen Wibong, satu-satunya gereja di Desa Tablasupa. Tim pun dibagi dua, Aep dan Stella fokus pada kegiatan Mama Mince dan anak-anak, saya dan Faizal fokus ke Mama Desi.

SD tempat Mama Mince menjadi Kepala Sekolah sekaligus Guru

SD tempat Mama Mince menjadi Kepala Sekolah sekaligus Guru

Bersama anak-anak Tablasupa

Bersama anak-anak Tablasupa

Syuting anak-anak di kelas sambil dibimbing Mama Desi berlanjut ke pengenalan hutan di sekitar sekolah, kamipun menuju hutan di belakang sekolah. Jalanan menuju hutan sedikit berbatu sehingga agak licin saat kami menapak, namun kerjasama yang kompak membuat rintangan kecil bukan masalah.

Syuting di kelas

Syuting di kelas

Kegiatan pengenalan hutan

Kegiatan pengenalan hutan

Narsis aah di hutan :p

Narsis aah di hutan :p

Oh iya, saat syuting dan segala kebutuhan, kami dibantu Bang Markus, yang kayak preman, tapi baik, dan sigap membantu kami. Apapun yang kami perlukan untuk syuting dapat beliau sediakan dan selalu diupayakan bisa dilaksanakan.

Bersama Bapak Jorge di kiri dan Markus di kanan

Bersama Bapak Jorge di kiri dan Markus di kanan

Bersama Mama Mince dan murid-muridnya

Bersama Mama Mince dan murid-muridnya

Lokasi syuting berikutnya adalah Pantai Serie Bo, sebuah pantai yang lumayan jauh dari desa, namun masih dalam lingkungan Teluk Tanah Merah yang bisa ditempuh dengan speedboat. Bersama para guru dan murid, kami terbagi dalam 2 perahu demi kepentingan gambar. Menyenangkan lho mendengar kebiasaan anak-anak dan guru menyanyi lagu-lagu memuji Tuhan di perahu. Jadi ikutan menyanyi deh :D.

KET :  Atas : saya di Pantai Serie Bo Bawah : Suasana di tepi pantai

KET :
Atas : saya di Pantai Serie Bo
Bawah : Suasana di tepi pantai

Aep mulai syuting

Aep mulai syuting

KET :  Atas : asyik bermain pasir Bawah : Stella sibuk (pura-pura) mencuci baju Faizal :D

KET :
Atas : asyik bermain pasir
Bawah : Stella sibuk (pura-pura) mencuci baju Faizal 😀

Menikmati pantai

Menikmati pantai

Pantai Serie Bo ini termasuk kecil, tapi nyaman dengan pasir putihnya, anak-anak dan guru syuting kegiatan pengenalan lingkungan laut dengan teori dan praktek. Dalam praktek, anak-anak pun berenang dan sesekali menyelam untuk melihat langsung terumbu karang serta kehidupan biota laut yang musti dijaga. Disini juga jadi ajang pembelajaran bagi Faizal dan Aep yang baru pertama kali mengambil gambar di bawah laut. Saya pun menikmati keindahan pantai ini dengan asyik memotret sana sini setelah syuting kelar.

Belajar sambil praktek langsung ke lingkungan pantai

Belajar sambil praktek langsung ke lingkungan pantai

Aep dan Faizal saling bergantian mengambil gambar underwater

Aep dan Faizal saling bergantian mengambil gambar underwater

Akhirnya selesai sudah syuting hari kedua kami. Seperti biasa kelar makan malam, kami nongkrong di Jembatan Sinyal. Peserta tetap Aep dan Faizal. Stella? Stella sama sekali tidak bisa mendapat sinyal disitu meski sama seperti kami operatornya. Ntah kenapa. Kasian jadinya, tidak bisa kirim-kirim kabar sama sang kekasih. Namun terkadang Stella ikut menemani kami, bercanda dengan teman-teman barunya serta ngobrol sana sini. Sambil menanti sinyal kami kerap menyanyi, bercanda bahkan seperti piknik menyiapkan makanan dan minuman sebagai teman penantian sinyal. Apalagi suasana tidak gelap meski tidak ada lampu penerangan di sekitar jembatan, namun karena bulan sedang ekstra baik memancarkan sinarnya sehingga cukup terang disini. Sebenarnya romantis lho, di bawah sinar bulan, memandang langit dan laut luas malam-malam. Enaknya sama keluarga yaa…sayangnya saya ditemani Aep dan Faizal aja hahahaa…Eh tapi warga juga kerap berderet duduk di sekitar jembatan sinyal karena memang disinilah tempat sinyal yang ntah sering pergi tanpa pamit.

di Dermaga setelah kelar syuting Pantai Serie Bo

di Dermaga setelah kelar syuting Pantai Serie Bo

Segelas teh hangat menemani kala menanti sinyal di Jembatan Sinyal

Segelas teh hangat menemani kala menanti sinyal di Jembatan Sinyal

Nongkrong bareng di Jembatan Sinyal

Nongkrong bareng di Jembatan Sinyal

Hari berikutnya alias Hari Kamis, 14 November kami melanjutkan syuting. Beruntung kami bisa membagi menjadi 2 tim, Aep dan Stella, saya dan Faizal, sehingga memudahkan pekerjaan, yang biasa dilakukan dengan 1 tim. Saya dan Faizal mencari anak-anak yang diajarkan Mama Mince soal Pendidikan Lingkungan Hidup atau PLH, bagaimana mereka menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Anak pertama yang kami pilih adalah Ben Hur, omg namanya keren banget, jadi inget film Ben Hur jaman dulu yang dikenalkan sama Bapak saya hahaha. Film lawas yang populer tahun 1959 menceritakan tentang kasih, penderitaan, dan pergumulan antara kebaikan melawan kejahatan. Ben Hur sebagai tokoh utama yang mengalami berbagai masa sulit, dikhianati sahabatnya sendiri Marsalla, akhirnya menemukan kasih setelah ibu dan adik perempuannya disembuhkan Tuhan Yesus saat mereka menderita penyakit kusta. Film epic kolosal ini berlatar belakang Romawi kuno. Nah, kembali ke Ben Hur, anak Desa Tablasupa ini ternyata sangat grogi saat wawancara, tidak setangguh namanya hahaha. Sampai kami musti mengulang, dan take berkali-kali. Ben Hur tidak bisa diam, entah, tangannya kemana-mana, mengusap hidung, berkeringat banyak dan matanya tidak menatap saya yang mewawancarainya, belum lagi kacau balau dalam menjawab pertanyaan yang sudah sangat sederhana dan saya sesuaikan dengan anak-anak. Lantaran inilah, akhirnya kami memutuskan mencari anak lain yang bisa memenuhi kriteria kami.

Kami menemukan Agustinus alias Agus, nah bocah satu ini pintar dan bisa menjawab pertanyaan tanpa grogi seperti si Ben Hur. Ah satu sudah, tinggal cari 1 lagi bocah perempuan. Adalah Yosefina yang sepertinya sangat bersemangat untuk diwawancara, namun….kenyataannya tak beda dengan Ben Hur, Yosefina pun grogi, dan akhirnya kami dapat Melisa yang terlihat diam, namun dapat menjawab pertanyaan dengan lancar. Alhamdulillah…akhirnyaaaa. Bayangkan, hanya untuk mewawancara anak-anak yang grogi itu lama sudah. Apalagi matahari tengah terik bersinar, haiyaaah makin gosong lah saya. Hiks…belum pulih kulit saya yang menghitam dari Nabire, kini malah ditumpuk dengan makin menghitam disini… olala, pantas lah saya menjadi orang Papua hahaha.

Kamipun lanjut mengambil gambar Agus dan Ben Hur yang membersihkan sampah di sekitar dermaga dan pantai di lingkungan tempat tinggal. Agus dengan cekatan berenang mengambil sampah-sampah plastik yang mengambang di atas air. Oh iya, anak-anak disini tidak ada yang belajar berenang, mereka bisa dengan sendirinya lho, born to be swim mungkin wkwkwk.

Faizal mengarahkan Agustinus

Faizal mengarahkan Agustinus

Setelah adegan Agus selesai, gantian Melisa yang membersihkan daerah pantai di bawah bukit kuburan (bukit dimana khusus untuk makam, yang saya ceritakan di atas). Pantai di bawah bukit kuburan ini kecil saja, dan kerap terendam air saat pasang tiba. Beruntung saat itu air belum pasang. Dari sini saya dapat memandang melihat dari bawah jembatan sinyal, spot favorit kami.

KET : Atas : pemandangan dari jembatan sinyal Bawah : Faizal syuting

KET :
Atas : pemandangan dari jembatan sinyal
Bawah : Faizal syuting

KET : Kiri atas : alam nan indah Kanan atas : dari bawah jembatan Bawah : pantai di bawah bukit makam

KET :
Kiri atas : alam nan indah
Kanan atas : dari bawah jembatan
Bawah : pantai di bawah bukit makam

Setelah selesai, kami menuju kediaman Mama Mince untuk bergabung dengan Aep dan Stella, karena hari ini akan dilanjutkan dengan wawancara Mama Mince. Dari rumah Mama Mince, saya dan Faizal naik ke atas bukit mencari tempat dengan view bagus untuk wawancara. Jalan menuju bukit itu hanya setapak, dengan tanah merah berbatu dan licin, apalagi menanjak sedikit curam, makin membuat kami musti lebih berhati-hati. Ditemani Markus, kamipun bahu membahu membawa peralatan yang banyak guna kepentingan wawancara. Busyet, ngos-ngosan sekali iniiii….tinggi booo. Tapi dari atas sini, saya bisa melihat Desa Tablasupa dari kejauhan dan pulau-pulau serta bukit-bukit di sekelilingnya. Daaaan….pemandangan laut serta awannya….luar biasaaaa…ini Papua bung! Hahaha.

KET : Atas : Desa Tablasupa dari atas Bawah : pemandangan di sekitar Teluk Tanah Merah

KET :
Atas : Desa Tablasupa dari atas
Bawah : pemandangan di sekitar Teluk Tanah Merah

Stella, Aep dan Mama Mince menyusul kemudian, dan kami mulai menge set peralatan, kamera dan lainnya buat wawancara. Terkadang apa yang sudah kami siapkan, meski sudah dicek sebelumnya ada juga yang bermasalah, seperti clip on di salah satu kamera tidak bisa digunakan, namun karena masih ada clip on di kamera lainnya ditambah dengan mic, hal ini bukanlah sebuah masalah besar, masih bisa diatasi. Mama Mince tampak cantik dengan memakai pakaian adat nya berwarna biru, terlihat anggun dan keibuan.

wawancara Mama Mince

wawancara Mama Mince

Di tengah proses wawancara, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya…yasalaaaam, siapa sangka di cuaca terik tadi bisa mendadak turun hujan. Kami pun panik, mengamankan alat-alat dengan payung dan trash bag. Tidak mungkin kami turun, secara jauh dari bawah dengan jalanan yang ‘sulit’ tadi, jadinya…pasraaaahh. Sambil berdoa berharap hujan segera berhenti, tetap saja kami narsis, foto sana sini, kapan lagi yaaa :D. Thanks God, hujan tidak berlangsung lama sehingga syuting kami pun berjalan lancar.

Hujan menunda wawancara kami

Hujan menunda wawancara kami

KET : Atas : payung properti syuting berguna juga ya Bawah : Stella, Aep & Faizal, kok difoto hujannya gak keliatan, padahal deras lho

KET :
Atas : payung properti syuting berguna juga ya
Bawah : Stella, Aep & Faizal, kok difoto hujannya gak keliatan, padahal deras lho

KET : Atas : bersama Markus & Stella Bawah : bersama Mama Mince & Stella

KET :
Atas : bersama Markus & Stella
Bawah : bersama Mama Mince & Stella

Usai wawancara kami pun beristirahat di Jembatan Sinyal seperti biasanya, naaah mulai deh Faizal iseng, dia melihat ada perahu kecil tertambat di sekitar, dan penasaran untuk mencobanya. Hahahaaa, kasian deh perahunya, secara badan Faizal lebih besar, untung masih mengambang itu perahu :p.

kasian perahunya, Faizal kan buerat :D

kasian perahunya, Faizal kan buerat 😀

Berhubung logistik sudah habis…sore hari, saya dan Stella akan menuju ke Sentani untuk membeli persediaan. Meski kami menumpang di rumah warga namun kami juga tidak mau terus merepotkan. Jadilah saya dan Stella menyeberang ke Dermaga Depapre untuk selanjutnya menuju Sentani. Di Depapre kami dijemput Om Leo. Faizal menyarankan kami bermalam di Sentani, karena perjalanan yang cukup lumayan, daripada kemalaman, lebih baik besok paginya kami kembali ke Tablasupa.

Dermaga Depapre

Dermaga Depapre

ini lho Om Leo yang sebelumnya 'mengawal' anak-anak Jejak Petualang

ini lho Om Leo yang sebelumnya ‘mengawal’ anak-anak Jejak Petualang

Jujur, saya agak was-was pergi dan menginap berdua dengan Stella yang sama-sama perempuan. Karena berdasarkan pengalaman di Nabire rasanya kurang aman untuk perempuan pergi sendiri. Selama ada Om Leo memang aman, tapi nanti kalau di hotel? Om Leo menjawab keraguan saya, dan menjamin aman untuk kami berdua. Ok deh, lanjut. Kami makan malam dulu, sebelum berbelanja ahaha jadi inget, kalau di Nabire kota kecil yang sepi, Sentani maju dan ramai, bayangkan Papa Ronz Pizza aja ada hahaha dan satu lagi, disini banyak pendatang dari luar Papua. Kami belanja kayak orang kalap, secara sempat tidak ada apa-apa, bayangkan di Desa Tablasupa, warung makan tara da, warung yang menjual makanan kecil hanya satu dua saja itu pun tara lengkap *gubraaak. Om Leo sampai geleng-geleng kepala melihat belanjaan kami hahaha, maklum dong Om Leoooo.

Usai berbelanja, kami menginap di Hotel Grand Tahara, hotel kecil yang nyaman dan bersih, tapi yang terpenting aman. Hotel ini terletak di pinggir jalan. Semula kami mendapat kamar yang aneh bagaimana tidak di tembok yang berseberangan dengan pintu masuk ada jendela, saya pikir jendela dengan pemandangan luar, ternyata pemandangannya lorong jalan dimana ada kamar-kamar juga, kan gak lucu malam-malam saat kami tidur diketok-ketok jendelanya sama orang iseng yang lewat. Jadilah kami pindah kamar dengan jendela yang langsung menghadap jalan, lumayan jadi bisa merokok hihihi. Sayangnya aliran air di hotel ini kecil sekali, bahkan sempat mati…oalah di Tablasupa air bersih mengalir berlimpah, tapi disini kebalikannya, ckckck.

Hari Jumat, ada pemandangan berbeda. Pagi-pagi saat saya membuka jendela, wuiiih ada gunung nun jauh disana, sebuah pemandangan yang menyegarkan mata. Tapi kami musti bergegas menuju desa melanjutkan syuting. Saat saya dan Stella menunggu Om Leo datang, kami duduk di luar, tiba-tiba melihat ada angkot jurusan Sentani –Hawai PP pulak hahahaaa. Jadi ternyata kalau mau ke Hawai gak perlu repot, tinggal naik angkot itu sudah bakal sampai ke Hawai tanpa paspor pulak kaaan hahaha….

Pemandangan kala membuka jendela hotel

Pemandangan kala membuka jendela hotel

tak perlu susah-susah ke Hawai, tinggal naik angkot ini :p

tak perlu susah-susah ke Hawai, tinggal naik angkot ini :p

Saya sangat menikmati perjalanan dari Sentani ke Distrik Depapre, karena pemandangan yang indah. Sampai di Dermaga Depapre, kami mencari-cari Om Sem, secara beliau harusnya sudah ada disini, sampai lama kami menunggu, bahkan ada mama yang mencarikan Om Sem sampai ke pasar….ternyata Om Sem tidur di pondok kecil sekitar dermaga hahahaaa, maklum sudah berumur :D.

Pemandangan menuju Depapre

Pemandangan menuju Depapre

Saya paling suka naik speed boat, berhubung liputan kali ini dari pantai ke pantai makanya naik boat terus yaaayyyy. Sampai rumah (eh saya sudah menganggap rumah sendiri lho hahaha) kami menunggu para lelaki yang tengah syuting di bukit yang lebih tinggi wkwkwk… Pas balik, Aep yang katanya atlet bola aja sampai ngos-ngos an, begitu juga Faizal yang keberatan bawa badan eh barang sambil dibantu Markus. Peace men :p.

Suasana Dermaga Depapre

Suasana Dermaga Depapre

enjoying the view

enjoying the view

Seusai makan siang kami melanjutkan syuting. Kembali tim dibagi 2, kali ini Aep dan Stella ke Pantai Serie Bo, saya dan Faizal akan menemani para papa mancing, lha ini She Can apa Mancing Mania yak hahahaaa. Tapi peralatan mancing mereka cukup sederhana dengan tali pancing dan umpan daging ikan, tidak menggunakan alat pancing, meski saya melihat Bapak Mesakh mempunyai 2 alat pancing tapi sudah rusak katanya, itu saja pemberian turis yang pernah berkunjung.

Pemandangan dari bawah di speed boat

Pemandangan dari bawah di speed boat

Panasnya menyengat booo

Panasnya menyengat booo

Kami menuju tengah laut di spot pertama yang kabarnya banyak ikan, tapi kalau siang tak sebanyak malam, dan itu juga untung-untungan kalau dapat. Karena spot pertama kami tidak menghasilkan apapun, makanya pindah ke spot berikutnya, disini kami pun menunggu lama tapi tidak mendapat apapun, yang ada malah cerita-cerita dari para papa yang membuat kami tidak bosan. Om Sem bercerita kalau disini ada juga ikan paus, hiu, bahkan GT ealaaah sayangnya kami gak dapet ikan-ikan keren itu hehehe. Pindah lagi ke spot ketiga, dapat ikan batu hahaha, yaa seukuran ikan mas deh, jadi malu sama Mancing Mania nih :P. Tapi lumayanlah daripada lumanyun wkwkwk.

Mancing sudah

Mancing sudah

Akhirnya dapat juga meski kecil hehehe

Akhirnya dapat juga meski kecil hehehe

Makin menghitam (ini saya sendiri lho yang motret)

Makin menghitam (ini saya sendiri lho yang motret)

Menuju Pantai Serie Bo

Menuju Pantai Serie Bo

Dari sini kami bergerak ke Pantai Serie Bo untuk mengambil underwater lagi, menambah stock kemarin yang sudah ada, biar cakep gitu gambarnya. Padat sekali memang kegiatan hari ini. Akhirnya selesai juga dan kami pun kembali ke rumah.

di Pantai Serie Bo

di Pantai Serie Bo

Asyik berenang bermain air

Asyik berenang bermain air

Perlahan sang mentari turun ke peraduannya

Perlahan sang mentari turun ke peraduannya

Karena malam ini malam terakhir kami disini, kami menghabiskan waktu menikmati jembatan sinyal yang bakal kami rindukan. Diterangi sinar rembulan bertaburkan bintang, serasa indaaaah sekali. Sambil memutar musik, kami pun bernyanyi bersama, sampai kayaknya orang sekampung dengar kali hahaha, cueeeek.

Hari Sabtu, 16 November pagi-pagi kami sarapan di jembatan sinyal sambil mengambil time lapse sunrise, ada roti dan pisang goreng ditemani teh hangat. Aep sempat mencoba mendayung perahu, sementara saya mengamati bintang laut yang kerap ada di sekitar sini lantaran airnya yang jernih dan transparan.

Sarapan pagi terakhir di Jembatan Sinyal

Sarapan pagi terakhir di Jembatan Sinyal

Aep mencoba dayung perahu

Aep mencoba dayung perahu

Bintang-bintang laut terlihat jelas karena airnya yang jernih

Bintang-bintang laut terlihat jelas karena airnya yang jernih

Selanjutnya kami bergerak menuju Pantai Amai atau Amei, pantai disini berbeda dengan Pantai Serie Bo dengan pasir putihnya, sementara Pantai Amai pasirnya hitam alias coklat (mereka menyebutnya hitam). Pengambilan gambar suasana pantai dan time lapse dilakukan, sambil kerja kami pun foto-foto, ealaaah Stella dikerjain Aep dan Faizal, jadilah mereka lempar-lemparan pasir, wkwkwk. Kami juga sempatkan mampir ke rumah Kepala Kampung untuk bersilaturahmi dan beliau minta dvd tayangan kalau sudah tayang. Siap komandaan!!

Pantai Amai atau Amei

Pantai Amai atau Amei

yaaayyyy i'm flying (may favourite photo, thanks to Aep)

yaaayyyy i’m flying (may favourite photo, thanks to Aep)

KET :  Atas : Faizal ngerjain Aep Bawah : Stella dikerjain Faizal & Aep :D

KET :
Atas : Faizal ngerjain Aep
Bawah : Stella dikerjain Faizal & Aep 😀

KET :  Atas : kejar-kejaran dua bocah :p Bawah : Stella ngisengin Aep

KET :
Atas : kejar-kejaran dua bocah :p
Bawah : Stella ngisengin Aep

Yang lucu, saat kami memanggil tukang perahu yang stand by di kejauhan, kami berteriak bersama-sama memanggil Jon, ternyata namanya Anton hahahaa pantas saja dia tidak menengok saat kami sudah berteriak dengan keras dan lantang.

Setelah itu kami menuju Pantai Harlem, yang lebih indah lagi dari Pantai Amai ataupun Serie Bo, pantas saja pantai ini ternyata juga tempat tujuan wisata dan ramai kalau Sabtu Minggu, tapi ramainya disini beda kali sama ramainya Ancol :D. Pasir nya putih dan lembut, airnya jernih dan berwarna hijau dan biru bening. Faizal dan Aep bergantian mengambil gambar underwater dan time lapse sambil snorkling menikmati laut, Stella asyik sendiri snorkling dengan pelampung tapi tak jauh dari pantai karena takut berenang di laut, sementara saya cukup basah-basahan saja menikmati air laut karena tidak bisa berenang *ngeles. Tempat ini sungguh luar biasa indahnya, didukung dengan langit biru dan awan yang menggumpal indah. Uniknya, disini ada kolam alami yang berisi air tawar lhooo…aneh kaaan, woow!

Pantai Harlem

Pantai Harlem

KET ;  Atas : yang asyik berenang Bawah : full team dan Anton

KET ;
Atas : yang asyik berenang
Bawah : full team dan Anton

KET : Atas : tonton SHE CAN eps ini Sabtu, 23 November 2013 pkl 08.30 di TRANS7 Bawah : mengambil timelapse suasana pantai

KET :
Atas : tonton SHE CAN eps ini Sabtu, 30 November 2013 pkl 08.30 di TRANS7
Bawah : mengambil timelapse suasana pantai

Bersama Markus sang guide selama liputan

Bersama Markus sang guide selama liputan

Tarzan mulai beraksi…auwoooo

Tarzan mulai beraksi…auwoooo

Me (again:P)

Me (again:P)

di kolam air tawar Pantai Harlem

di kolam air tawar Pantai Harlem

Hari ini juga hari terakhir kami di Desa Tablasupa, siang nanti kami akan ke Jayapura. Jadi, setelah mandi, bersih-bersih dan packing, kami makan siang bersama keluarga Bapak Mesakh, termasuk Mama Mince, makan papeda..akhirnya, meski kayak agar-agar namun kenyal tapi gak sekenyal jelly, rasanya hambar, begitu dicampur sayur dan ikan hasil tangkapan langsung dari laut, luar biasa enak dan mengenyangkan.

Bareng Yehuda, till we meet again

Bareng Yehuda, till we meet again

Papeda

Papeda

KET : Atas :

KET :
Atas : foto terakhir sebelum meninggalkan Tablasupa
Bawah : ada perjumpaan dan ada pula perpisahan

Kelar berpamitan, kami diantar ke Dermaga Depapre, disitu sudah menunggu Om Leo yang mengantar kami ke Jayapura. Dalam perjalanan kami mampir minum es kelapa sekaligus menikmati pemandangan dari atas, yang menakjubkan. Om Leo mengajak kami ke Baso Solo dimana tim Jejak Petualang juga mampir. Basonya enak banget. Sampai di Hotel Aston Jayapura, saya pun istirahat, sambil melanjutkan tulisan perjalanan ke Nabire yang belum sempat diposting akibat kesibukan….kelar sudah, istirahat sudah. Sementara para lelaki pijat, kasian lah, mereka kerja keras mengambil gambar dan memanggul kamera kemana-mana.

pemandangan dalam perjalanan menuju Jayapura

pemandangan dalam perjalanan menuju Jayapura

menikmati kelapa muda

menikmati kelapa muda

Baso Solo dengan stiker JP

Baso Solo dengan stiker JP

ini iseng namanya :D

ini iseng namanya 😀

Pagi Jayapura, aah tidak terasa sebentar lagi pulang. Perjalanan kali ini benar-benar terasa cepat waktu berlalu, mungkin karena fun, jadi sekeras dan secapek apapun liputannya tidak dirasakan. Kami pun sarapan, setelah itu Stella ibadah, saya menunggu di kamar sambil menulis perjalanan ini. Sekitar pukul 12, Om Leo tiba, ternyata Aep dan Faizal tidur lagi, jadilah kami menunggu mereka, berhubung lapar dan gegara melihat berbagai postingan di path soal mie ayam, saya dan Stella langsung menuju Rumah Makan Mie Medan tak jauh dari hotel. Ternyata mie nya enaaaak sekali sayangnya pangsit sudah habis, mungkin karena sudah siang sementara disitu buka jam 8. Tapi tak apalah, perut kami sudah dipuaskan, nom nom nom :P.

ini enak banget

ini enak banget

Kami pun menuju ke bukit atas, dimana terdapat tulisan Jayapura City seperti Hollywood gitu meski tak sebesar tulisan Hollywood. Berhubung kami ke tulisan itu makanya tidak bisa memotretnya hahaha. Dari sini terlihat kota Jayapura, dan pulau-pulau sekitarnya…indaaah sekali. Para kameramen kembali mengambil stock shot kota Jayapura dari kejauhan.

Pemandangan dari tulisan Jayapura City

Pemandangan dari tulisan Jayapura City

so high, so beautiful, the view

so high, so beautiful, the view

Lanjut ke bukit berikutnya yang juga berseberangan dengan bukit Jayapura City untuk mengambil stockshot kota dan pemandangannya. Setelah itu makan siaang…again dong, secara perut ini lapar terus wkwkwk. Menu makan siang ini papeda hihihi bukannya ketagihan sih, tapi kapan lagi. Saat kami membeli minum di warung tiba-tiba lengan saya dipegang perempuan papua, saya sontak terhenyak kaget, eh rupanya dia mengagumi tato saya hihihi…ayo ma’ce, nato sudah :D. Dalam perjalanan kembali ke hotel, kami mampir ke Stadion Mandala Jayapura tempat Persipura berlatih & bertanding (mumpung lewat).

another beautiful view

another beautiful view

me always :D

me always 😀

Stadion Mandala

Stadion Mandala

Tiba di hotel, kami beristirahat dan packing karena esok hari sudah kembali ke Jakarta. Cc & Bee, mama kangeen kalian, sampai bertemu lagi malaikat-malaikat kecil mama :*.

Hari yang ditunggu kembali ke Jakarta pun tiba. Kami meluncur ke Sentani dari kota Jayapura. Perjalanan sebelum kami meninggalkan tanah Papua ini benar-benar kami nikmati. Pemandangan alam yang indah benar-benar akan membuat kami rindu akan kota ini.

Pemandangan indah yang akan selalu kami rindukan

Pemandangan indah yang akan selalu kami rindukan

bakalan kangen tempat ini

bakalan kangen tempat ini

Danau Sentani

Danau Sentani

Terima kasih Desa Tablasupa, Terima kasih untuk semua yang sudah memudahkan liputan kami. Terima kasih Stella, Aep dan Faizal yang membuat liputan dan perjalanan menyenangkan juga kerjasama dan kerjakeras kita. Sampai jumpa lagi. Jangan lupa tonton SHE CAN eps TABLASUPA Sabtu, 30 November 2013 pukul 08.30 wib atau 10.30 wit. DEO GRATIAS, TERIMA KASIH TUHAN.

sampai ketemu lagiii

sampai ketemu lagiii

Advertisements

2 thoughts on “SURGA KECIL DI DESA TABLASUPA TELUK TANAH MERAH : A JOURNEY TO PAPUA (AGAIN)

  1. AH mbak Dini.. foto2nya bikin rindu.. Saya bisa bangga bilang pada orang2 saya punya saudara di tanah Papua. Mama Mince sekeluarga, Bang Markus, dan Pak Mesak sekeluarga mudah2an Maret besok bisa main kesini lagi 😀 *nabung nabung nabung

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s