MAKE IT FUN!

Bianca anak bungsu saya sering bermain bersama opanya. Main catur yang sekarang-sekarang ini lagi kerap dilakukan. Namun, beberapa hari kemarin Bianca mengeluh kepada saya, bahwa dia malas main sama opanya. Saya pun bertanya, mengapa? Dia menjawab bahwa sebelum memulai permainan, Bianca selalu diberi ‘pelajaran’ matematika, misalnya dulu perkalian, sekarang opa mengajarkan pecahan.

Sebenarnya oke oke aja, dengan catatan anaknya mau dan suka. Tapi yang terjadi sebaliknya, Bianca merasa terpaksa menjawab dan terpaksa menerima ‘pelajaran’ tadi agar bisa bermain dengan opanya. Bianca bilang bahwa aku capek, aku maunya bermain bukan belajar.

Dan itu sangat saya pahami, karena apa? Kalau belajar itu menjadi suatu keterpaksaan, maka anak akan stres dan dia malah tidak dapat memahami apa yang diajarkan. Bianca merasa tidak enak, dan bahkan dia menangis ke saya, bahwa dia takut nanti opa tidak mau bermain sama dia kalau dia tidak menuruti keinginan opanya.

Saya bilang ke Bianca, bahwa maksud opa baik, namun kalau kamu merasa tidak nyaman, kamu musti bilang ke opa, dan jangan lupa mengutarakan alasannya. Maksud opa memang baik, namun, perlu diingat bahwa anak, apalagi anak jaman sekarang, sudah bukan waktunya lagi ‘dipaksa’ belajar, mereka musti dimengerti, bahkan diberi keleluasaan untuk menentukan kapan waktunya untuk belajar, sesuai kesepakatan, dan kalau sudah, mereka harus mematuhi waktu yang mereka tentukan sendiri.

Pagi ini pun hal tersebut terjadi, di sabtu pagi, dimana anak-anak sedang asyik-asyiknya bermain, dan Bianca pun sedih. Meski akhirnya dia berani mengatakan apa yang dia rasakan ke opanya.

Dari dulu, saya pernah berpikir bahwa saya tidak cocok menjadi guru, rasanya pekerjaan itu berat sekali, kadang untuk diri sendiri saja sulit mengerti, apalagi musti mengajarkan kepada orang lain. Ketakutan ini pun sebenarnya berlanjut saat saya punya anak. Pikiran saya adalah : apa iya saya bisa ngajarin, apa nanti anak-anak ngerti, dan bla bla bla banyak pikiran lain. Namun yang terjadi alhamdulillah sekali, so far so good hahaha *pfiuuuh sambil kibas rambut. Meski saya tau saya juga banyak kekurangan, tapi at least saya berusaha dan belajar lagi. Iya! Belajar lagi, bagi saya dalam hidup itu kita tidak akan berhenti belajar, gak melulu soal pelajaran sekolah namun juga pelajaran hidup. Hidup ini sangat mengajarkan saya banyak hal yang tidak saya sangka sebelumnya.

Kembali dalam hal belajar tadi, saya hanya melakukan apa yang dulu saya tidak mau terjadi pada saya. Sekedar flash back, ayah saya, which is opanya Bianca itu, memang strict banget dalam hal belajar, kalau saya gak mudeng-mudeng alias gak paham-paham, oooh bisa aja itu buku dilempar atau bahkan dirobek ahahaha, pada ngalamin gak? Bahkan, yang paling membekas di ingatan adalah saat menghapal perkalian, itu ya, bisa dimana saja dan kapan saja bahkan sampai nangis-nangis. Coba bayangkan, lagi di mobil mau jalan-jalan, tetiba ayah saya menyuruh saya menyebut perkalian 1 sampai 10, kalau salah, ulang lagi dari satu, wah itu bisa sampai nangis-nangis. Positifnya jadi cepet hapal (karena kepepet kalau gak ya dimarahi dan diulang-ulang, capek gak sih bok!) namun negatifnya, jadi sebel, tertekan dan segala perasaan yang menyebalkan ada di benak saya kala itu.

Seiring berjalannya waktu dan setelah punya anak sendiri, saya sama sekali tidak mau menerapkan cara belajar yang ayah saya lakukan ke saya, saya saja merasa tertekan, apalagi anak-anak saya, saya tidak mau mereka merasakan apa yang saya rasakan. Toh masih buanyak cara lain yang efektif yang bisa membuat mereka hapal perkalian. Dan cara-cara itu jauh lebih menyenangkan dibanding yang pernah terjadi pada saya.

Belajar itu seharusnya menyenangkan! Kalau hati senang, maka pelajaran sesulit apapun akan dapat diterima dengan baik.

Saya adalah orang tua yang sangat woles (baca : selow). Saya membebaskan anak-anak untuk bermain, karena masa anak-anak adalah masa bermain, saya tidak mau merebut itu dari mereka. Namun, anak-anak juga perlu belajar tertib dan disiplin. Karenanya saya dan mereka menyepakati waktu belajar, kalau sudah waktunya, mereka harus stop bermain dan konsentrasi belajar. Ps : belajarnya pun cuma 1-2 jam saja.

Jujur saja, tidak bakalan mereka belajar tiap hari hahaha, kalau ulangan aja deh, kasian amat, udah sekolah belajar, di rumah belajar, duh hidup ini terlalu indah kalau hanya diisi untuk belajar terus. Tapi jangan salah, meski mereka bermain, atau bersantai, bukan berarti mereka tidak belajar, mereka belajar juga dari kehidupan, dari apa yang mereka lihat, mereka tonton dan permainan mereka. Saya kerap memasukkan nilai-nilai kehidupan saat mereka nonton tv misalnya, dan saya kaitkan dengan pelajaran yang mereka dapat di sekolah. Malah lebih mudah masuknya ketimbang berkutat dengan buku-buku pelajaran saja.

Misal nih, lagi nonton film soal anak yang kalah bertanding, dan anak itu marah serta nangis. Saya akan bilang ke anak-anak saya, saat kita kalah bertanding, kita boleh sedih, namun tidak boleh marah, kita musti sportif dan memberi selamat kepada lawan kita yang menang, ada kan di buku? Dan mereka akan menjawab iya mama, kita juga tidak boleh menyerah dan musti lebih berusaha lagi supaya nanti bisa lebih baik lagi. Nah kan? Anak-anak jadi makin memahami arti sportif dan menerima kekalahan, bukan untuk akhirnya malas dan berhenti, namun akan lebih giat lagi berusaha.

Saya bukan guru, namun saya berusaha untuk mengajarkan anak-anak nilai-nilai kehidupan, bagaimana mereka nantinya menghadapi hidup yang keras, sehingga mereka tidak hanya belajar dari pelajaran sekolah, namun siap menghadapi segala tantangan hidup. Itu harapan saya.

Semuanya bisa dilakukan dengan hati gembira, fun, dan tidak ada keterpaksaan.

Make it fun! Ya, buatlah semua dengan hati senang. Tak hanya soal belajar namun juga soal kehidupan. Kita semua pasti sedang bergumul dengan masalah kita sendiri, dengan kesusahan kita sendiri, namun, percayalah, sedih, stres dan lain-lain tidak akan menyelesaikan masalah. Ibarat kita terjebak di tengah kemacetan, stuck, kita marah? Nangis? Sedih? Lalu, apakah dengan kita marah, nangis, dan sedih tadi, macetnya langsung hilang? Tidak! Apa yang kita bisa lakukan? Go with the flow! Jalani saja dengan riang, nyanyi kek, selfie kek, ketawa ketawa kek, yang ada kan hati dan pikiran tenang. Sayang sekali kalau kita jadi tidak bisa mensyukuri hidup kita bila kita tidak senang. Kita masih punya Tuhan, masih ada anak-anak, suami/istri, teman dan keluarga, itu yang perlu amat sangat kita syukuri. Jalani hidup dengan riang, no matter what.

Kadang yang kita perlukan adalah menertawakan diri sendiri, menertawakan segala masalah dan kesusahan kita, untuk akhirnya kita jadi lebih mampu menghadapinya. Yang terpenting adalah kita punya keyakinan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan kita dan selalu bersama kita. Amin! Deo Gratias!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s